Rencana mau dibuat novel, tapi blum tau bagus atau tidak, jd masih belum Max. Jgn di copy paste dulu ya…


@Faeyza Faiz Al Ghaisan
Udara Pagi kota salatiga begitu dingin menembus poripori kulit ini membuat kulit ini terasa kaku. Kabut-kabut putih pagi bagaikan asap kahayalan di negri dongeng yang membius raga ini agar bersembuyi di balik selimut yang begitu tebal. Membuai angan dan mimpi di dalam lelapan mata di sebuah negeri dongeng yang tersetting rapi membius ruh ini agar tetap di alam surgannya.
“Faiz…Faiz…bangun nak, matahari sudah tinggi bertengger di langit kok’ masih tidur. Ayo, bangun siap-siap sekolah nak ”.
Aku yang masih mengatuk pun terpaksa membuka mata ini karena aku tak sanggup untuk membantah ibuk yang sudah merawatku dari kecil. Terpaksa selimut tebalku aku geser kesampingku. Aku tak langsung bagun hanya membuka mata kemudian duduk sebentar mengamati ruang kamar ku. Seperti biasa bentuk kamar ini tak berubah tidak seperti di dalam mimpi ku tadi.
Meja di sebelah situ sebelahnya almari. Di sebelah kanan tempat tidur terdapat jendela dan di dinding-dinding kamar terpajang beberapa poster Simple plan, Greenday, Lp, dan poster wanita cantik dan diriku. Poster Bella Swan dan Robert Pattison kalo temen-temen ku bilang sich aku mirip Robert Pettison Twilight. Aku sempat tak percaya sich tapi ada adik kelasku yang begitu suka Film ini lari-lari menghapiri ku dan memberikan sebuah poster Bella dan Edward Twilight yang ia dapat dari majalah Gaul. Ya inilah sejarahnya kenapa aku punya poster cewek cantik ini.
“ ya buk, ini Faiz dah bangun kok”.
Aku memang terbiasa memanggil ibu dengan sebutan ibuk, maklumlah aku kan orang jawa tulen jadi sudah kebiasaan menggunakan lafal akhiran “k” untuk menyebut ibu. Walaupun telingga ini begitu risih saat dipanggil Faiz, aku tetap berusaha mengerakkan badan ini untuk bangun dari tenpat tidur.
“Buk, namaku kan Faeyza Faiz Al Ghaisan. Mbok, ya panggil Eyza gitu biar kelihatan seperti nama anak kota-kota”.
“ Halah nak, nama Faiz juga sudah baguskan dari pada Sarmo apa Gimen to nak-nak”.
Memang, aku sangat bangga dengan nama Faeyza Faiz Al Ghaisan yang diberikan oleh kakekku. Nama ini, begitu bagus dan memiliki arti yang bagus pula Faeyza yang kata kakek memiliki arti sukses berkehidupan meningkat dan nama Fa’iz memiliki arti berjaya dan Ghaisan yang memiliki arti rupawan. Aku dilahirkan tepat saat adzan subuh berkumandang. Saat itu bapak tidak menemaniku karena bapak masih bersenang-senang dengan wanita idamannya.
Saat kelahiranku perekonomian keluarga masih stabil bahkan bisa dikatakan lebih. Kakekku memiliki banyak tanah. Karena anak kakek tunggal, maka harta dan warisan tanah diberikan semuanya untuk bapak. Bapak seorang pria pengangguran tapi memiliki banyak uang karena warisan yang diberikan kakek untuk bapak.
Bapak yang bergelimangan harta pun sampai melupakan saat-saat kelahiranku ke dunia ini. Bapak lebih memilih menghabur-haburkan uang warisan kakek untuk memenuhi kebutuhan wanita idamannya. Saat aku dilahirkan dan membuka mata ini untuk melihat dunia. Bapak pun tidak menlantunkan adzan untuk menyambutku. Namun lantunan adzan itu dilantunkan dari mulut seorang kakek.
Sesosok kakek yang bagiku sangat berarti. Yang aku tahu, ayahku adalah kakekku. Dan aku adalah harapan kakekku. Kakek berharap agar aku menjadi anak yang selalu bersahaja dan dapat bermanfaat dimanapun aku berada. Teringat pula nama indah ini. Nama yang diberikan oleh kakek. Jadi kalau disambung-sambung kakek memiliki harapan dari namaku ini agar aku menjadi anak yang sukses jaya dan memiliki muka ganteng.
Dulu setiap sore kakek selalu mengajakku bermanin layang-layang di sawah. Aku yang mengulurkan benangnya dan kakek menarik layang-layang itu tinggi-tinggi. Kakek juga mengajarkanku cara memanjat pohon. Kakek juga yang mengajarkanku cara naik sepeda. Aku tidak akan melupakan saat-saat kakek bercerita dan menasehatiku tentang banyak hal. Kakek pernah berpesan kepada ku.
“ Nak, jika kamu ingin jadi anak yang santun dan bersahaja. Ingat..ingat pesan kakek ini ya. Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Jadilah air yang selalu memberikan manfaat untuk setiap manusia yang membutuhkannya. Belajarlah dari air yang selalu memberikan manfaatnya untuk mahluk disekitarnya dan belajarlah kehidupan dari pasangan lebah dengan bunga yang selalu melengkapi tanpa menyakiti pasangan yang selalu memberikan manfaatnya untuk manusia”. Ibuk pun memanggil nama ku.
“ Faiz kamu sedang apa?”.
Ibu yang yang memanggil namaku dengan panggilan Faiz terasa mengelitik telinga ini. Aku pun senyum-senyum sendiri saat mengingat arti namaku yang pernah dijelaskan kakek padaku saat masa kecil. Ibuk yang melihatku cengengesan sendrian pun menepuk pundakku sambil berkata.
“ Nak.. nak kamu lagi mikir apa kok cegengesan sendiri kayak Juminten”.
“ Ibuk ini, aneh-aneh saja, anak sendiri kok disamaain sama juminten edan”.
Memang nama yang diberikan kakek sesuai dengan harapan kakek tapi hanya sebagian saja. Sembari mengaca di cermin aku mengobrol sendiri.
“ Wah, wajah ganteng seprti harapan kakek. Hidung mancung, kulit putih, dan postur tinggih gagah. Tapi kehidupan suram, tidak apa-apalah yang penting punya wajah ganteng”.Kuletakkan sisirku sambil melangkahkan kaki ini untuk melangkah keluar dari kamar.
“ Buk ,Eyza brangkat sekolah dulu ya”.
“ ya Iz, hati-hati di jalan, ya”.
“ Ah, ibuk mbok pangilnya Eyza”.
Sembari mencium tangan kasar ibuk aku pamit berangkat ke sekolah. Tangan ibuk memang kasar tetapi bagiku tangan ibuk adalah tangan yang paling halus sedunia, aku tahu ibuk selalu berkerja keras untuk keluarga ini. Maklum, Bapak pergi meninggalkan kami. Bapak meninggalkanku sejak usiaku enam tahun. Bapak pergi dengan wanita pujaannya. Sosok laki-laki yang kukenal untuk menggatikan figur seorang bapak hanyalah kakek.
kakek sekarang sudah tidak menemaniku lagi karena kakek sudah damai berada disisi-Nya. Kakek sosok yang selalu menjadi panutanku yang telah memberikan nama untukku yang disertai dengan doa dan harapanya. Namun sekarang kakek sudah tiada, sembari mencium tangan kasar ibuk kulangkahkan kaki ini mengeluari pintu rumah.
Seperti biasa, aku selalu nongkrong di halte sambil menunggu bus Esto datang, memang bus ini sudah tua jadi jalannya pun pelan. Setiap hari aku naik bus Esto ke sekolah, maklumlah bayarnya lebih murah selain itu, aku bisa tebar pesona pada para gadis, biasanya siswi SMP dan SMA yang juga akan berangkat sekolah bahkan kuliah atau kerja. Aku pun dengan percaya diri masuk ke dalam bus.
Tak disangka, hujan datang, hati senang itulah ungkapan yang biasa aku ucapkan jika mendapat untung. Ternyata, aku duduk bersebelahan dengan mbak-mbak yang sudah bekerja jadi aku ajak kenalan saja dan akhirnya aku dapat gratisan dech alias dibayarin. Itulah jurus yang aku gunakan saat naik bus Esto, cari tempat duduk dekat cewek atau mbak-mbak, kuajak kenalan dan akhirnya dibayarin dech. Lumayan, ngak ngeluarin uang, gumamku dalam hati.
Sampailah aku di gerbang besar yang bagiku bagaikan kerangkeng. Dengan langkah gontai, kutapakkan kaki ini untuk memasuki gerbang kerangkai itu. Terdengar suara wanita menyapaku.
“ Selamat pagi kak Eyza. Kakak hari ini nampak segar sekali”. Dalam batinku.
“ Akhirnya ada orang yang memanggil namaku Eyza serasa bantin dan telingga ini begitu segar saat di panggil Eyza”. Aku pun membalsan sapaan adik kelasku dengan senyum cool ku.
“ Ya, selamat pagi”.
Aku tak kaget jika banyak gadis di sekolah yang menyapaku, maklum mukaku tidak terlalu jelek-jelek amat alias ganteng. Terasa tanggan besar menepuk pundak ku.
“ Hai Bro. Tumben berangkat ke sekolah. Wah, seru nich kita bisa nongkrong bareng”.
“Yo’i Bro. Masuk kelas dulu yuk bel sudah berbuyi tuch”.
Akhirnya, kulangkahkan kaki ini memasuki kelas. Pak Rudi pun memasuki kelas, biasa absen pun dimulai.
“Faiz hadir?” seru pak Rudi. Kebiasaan Pak Rudi bila mengabsenku pasti memanggilku Faiz.
“ Faiz hadir”. Aku pun menjawab.
“ Eyza hadir Pak”. Pak Rudi pun memanggilku dengan nama lengkap setelah medengar seruanku.
“ ya. Faeyza Faiz Al Ghaisan”.
“ Ya, pak hadir. Nah, gitu dong pak kalo di panggil Faeyza kan keren” .
Ujar teman-temanku semabari tertawa memandangku karena mereka tahu kalau aku tidak suka jika dipanggil Faiz. Karena nama Faiz bagiku seperti nama seorang wanita karena teman sekelas ku ada yang bernama Faizah.
@Raksasa Penegak Keadilan
“Teng..teng…teng” bel istirahat pun berbunyi. Tapi ada sosok pria besar yang medatangi mejaku. Ternyata itu pak Badrun Guru BK.
“ Ada apa pak? Bapak mencari saya”. Tanya ku penuh penasaran.
“ Sepulang sekolah nanti kamu ke ruang BK, ya!”
Suara garang pak Badrun pun memecah keramaian kelas. Serasa yang terdengan hayalah suara pak Badrun. Pak Bardrun sesosok orang yang tinggi besar berkulit hitam dan menakutkan. Menurut teman-teman Pak Badrun itu Raksasa keadilan yang suka menghakimi menyidang anak-anak sekolahan ini tanpa belas kasihan.
Raksasa ini juga tak segan-segan memanggil orangtua atau wali murid dan memarah-marahi wali murid karena kenakalan siswa yang dilakukan di sekolah. Menurutnya kenakalan siswa di sekolah itu terjadi karena kurangnya perhatian dari orang tua. Badan ku pun terasa kaku dan dahiku pun mengernyit saat pak Badrun memastikan bahwa aku bisa datang.
“Kamu jangan lupa sehabis pulang sekolah ke ruang BK, ya!”
Aku pun memasak mengerakkan bibir yang kaku ini untuk membentuk sebuah kalimat.
“ Ya, pak”.
Ketakutanku pun memudar saat pak Badrun meninggalkan mejaku.
“Kok, bisa ya Bu Khusnul yang kalem dan baik hati punya suami seperti pak Badrun”. Ujarku kepada teman sebangkukku. Teman sebangku pun menjawabku
“ Ya, namanya jodoh. Siapa yang tahu. Mungkin pak Badrun suka ngasih bunga kepada bu Khusnul jadi bu khusnul mau sama pak Badrun. Atau pak Badrun memohon-mohon sambil nangis agar bu Khusnul mau jadi istrinya”.
Sontak aku adan teman-teman lainnya tertawa terbahak-bahak saat medengar Toni teman sebagkuku mengatakan hal itu. Tawa kami pun memecah keheninggan kelas yang tadi terasa menakutkan yang mengusir aura kedisiplinan Pak Badrun.
Bapak Badrun bagiku Pak Badrun adalah sesosok pria raksasa penegak keadilan dan kedisiplinan. Tak tahu kenapa setiap ada siswa yang membawa HP saat ujian pasti pak Badrun tahu dan dimanapun teman-temanku menyembunyikan contekan pastilah pak Badrun tahu. Padahal di kelas dan sekolahan ku belum ada Sisi Tvnya.
Kadang adik-adik kelasku menjuliki pak badrun itu Mata elang karena dia bisa tahu segala hal yang berhubungan dengan siapa yang melanggar tatatertib dan siapa anak yang selalu menaati tata tertip. Tak tangung tangung kepala sekolah pun memberikan kartu hijau untuk pak Badrun agar pak badrun dapat menyidang dan membinan murid di sekolah ini sesuai dengan peraturan pak Badrun sendiri.
Pernah suatu ketika ada anak perempuan kelasku sedang menyontek saat ujian kenaikan kelas dan dia menyembunyikan contekkannya di dalam roknya. Namun nasib baik tak berpihak kepadanya karena pak badrun berkeliling memeriksa kelas kami. Tak ada petir hujan dan guntur tiba-tiba pak Badrun memotong roknya dengan gunting. Dan akirnya contekan teman sekelasku pun terlihat. Dan apa hasilnya dia di panggil ke rung BK dan harus menghadap ke Ruang kepala sekolah. Tak hanya itu saat upacara nama gadis itu harus di baca di dalam buku merah. Alias buku pelanggaran sekolah. Tak hanya itu Poin pelanggaran pun harus dia terima.
Saat aku mengingat ingat kejadian aku tersadar kalo aku juga di panggil ke Ruang BK. Ruang dimana anak- anak sekolah ini mendapatkan pengadilan dan hukuman dan biasanya anak yang sudah masuk kerunngan pak Badrun akan berubah menjadi anak yang penurut. Ada yang bilang juga ruang BK itu ruang antara neraka dan surga. Aku pun mencoba menginggat-ingat pelanggaran apa saja yang sudah aku buat di sekolahan.
“bolos sering, SPP nunggak 3 bulan, baju seragam tidak rapi, malak teman gak pernah, tawuran gak pernah, nyuri gak pernah, nilai sekolah lumayan bagus”.
Nah ada dua alasan Pak Badrun memanggilku. Pertama karena aku bolos dan yang kedua karena aku belum bayar SPP selama 3 bulan.
“ Eyza coba kerjakan soal MAT nomer 5”.
seru bu Nindi yang memecah kerisauan hati ini.
“ ya bu”.
akhirnya kugerakkan tangan ini di white Board yang sudah tidak berwana putih lagi. Rasanya tangan ini bergerak dengan sendirinya menulis angka-angka yang akhirnya membentuk sebuah rumus. Otak ini pun mengalir bagaikan tinta mencari tempat untuk di nodai.
“ nah sudah selesai bu”.
ujarku sambil menaruh sepidol bu Nindi. Bu nindi pun menimpaliku dengan senyum dua sentinya yang mengisyaratkan ke puasan,
“ Eyza. Sebenarnya kamu itu ganteng dan pintar namun rasa malas kamu itu luh yang bikin nilai kamu kadang bagus dan kadang jelek”. Aku pun membalas perkataan bu Nindi
“ Nanti kalo saya rajin belajar bisa-bisa saya gak sekolah Bu karena sudah pintar”.
Bu nindi pun tersenyum kepadaku. Karena bu Ninda sudah tahu kebiasaanku yang suka membalas perkataan guru. “teng… teng..teng” bel pulangpun berbunyi. Aku pun membereskan buku-buku pelajaran ku yang berceceran di meja ku.
Toni pun menepuk pundakku.
“ good luck Bro, semoga beruntung masuk keruangan antara Surga dan neraka”.
“ ah kamu Ton ada-ada aja ruang BK dibilang ruangan Sugar dan Neraka ngawur kamu”.
aku pun mencoba agar tidak goyah untuk melangkahkan kaki ini untuk keluar kelasa dan menuju ruang BK. Kususuri kelas demi kelas. Kelas 12 E sudah kulewati, ruang guru sudah kulewati ruang kepala sekolah sudah kulewati tinggal menuruni tangga ini dan sampailai aku di sebuah ruaangan bercatkan warna hijau yang menyejukan mata. Namun terhentak fikiran ini. Bukan berfikir hal-hal yang sejuk lagi namun berfikir sesosok raksasa keadilan menunggu ku untuk menghakimi ku.
Aku pun mengetuk pintu berwarna hitam itu semabri mengucapkan salam.
“ Selamat siang pak”. Terdengar suara besar pun membalasku
“ ya sini masuk Nak. Sini nduduk di korsi ini”.
Aku pun duduk dan tak terasa kaki ini bergetar saat menghadap pak badrun.
“ kamu tahu kenapa bapak memanggil kamu ke BK”
aku pun mengangguk sambil mengarhkan mata untuk melihat ubin yang sudah bernodakan tanah.
“ ya pak saya tahu”. Pak Badrun pun membals ku sambil berucap
“tahu apa Za?.
“ saya tahu kalo bapak memanggil saya karena saya suka bolos dan belum bayar SPP selama 3 bulan”.
Aku pun berusaha mengangkat kepalku agar menantap wajah pak Badrun. Pak Badrun pun memabalsa perkataan ku dengan senyuman kecil yang keluar dari sela-sela kumis tebalnya yang terlihat tidak begitu jelas.
“ ya sudah kalo kamu nagku sendiri kalau kamu suka bolos. Padahal bapak gak tahu kalo kamua suka bolos. Yang bapak tahu hanya kamu belum bayar SPP selama 3 bulan. Makanya bapak menaggil kamu. bapak ingin tanya ada masalah apa? Kok sampai 3 bulan kamu belum bayar SPP”.
Keringat dinginpun mengucur batinku pun berkata.
“ aduh sial malah kau nagku bolos bisa-bisa dapat hukuman dobel”.
Aku pun mencoba menatap mata pak Badrun yang tajam itu. Aku pun mencoba menjelaskan kepada pak Badrun.
“ saya belum bisa bayar SPP karena Ibu saya belum punya uang pak. Ibu saya Cuma seorang buruh nyuci. Bapak saya pergi meninggalkan saya sejak saya usia 6 tahun pak. Untuk makan dan jajan saya mengamen sepulang sekolah pak”. Raut muka pak badrun yang garang pun sedikit demi sedikit melembut.
“ saya saja masuk sekolah ini karena sekolah ini kata ibu saya bayarnya gak mahal pak. Tapi apa daya pak nasib baik belum berpihak pada ibuk saya pak. Ibu saya belum bisa menyisihkan uang untuk membayar SPP saya selama 3 bulan ini karena ada kebutuhan lain”.
“ o jadi itu alasan kamu tidak bisa bayar SPP. Ya bapak memakluminya bapak hanya ingin memberitahukan kepada kmau. Kalo kamu di beri waktu untuk bayar spp sampai tanggal 10 bulan depan ya. usahakan kamu bisa menyisihkan uang kamu untuk bayar SPP. Kamu harus sabar ya Za. Bapak akan berusaha untuk membatu kamu”.
Aku pun terkaget-kaget saat medengar perkataan pak Badrun. Pak badrun sesosok Raksasa keadilan kata teman teman ganas pun tak seperti yang mereka kira. Jadi benar bila ada yang bilang ruang BK itu ruang neraka dan Surga. Karena Nekara Bk disiapkan untuk anak-anak yang nakal dan Surga BK disiapkan untuk anak-anak yang baik dan membutuhkan pertolongan. Akhirnnya kaki ku memmbentu kuda-kuda dan jurus seribu bayangan untuk lari dari BK karena perbincangan antraku dan pak Abdrun sudah usai.
@Bergulat dengan Asap
Sampailah di terminal angkot segeralah ku ganti baju putihku dengan kaos. Aku pun mengamen setelah itu aku mencoba menjadi kernet di angkot pak Dadang. Bergulat dan menghirup asap kendaraan yang hitam pun menjadi makan siang ku stelah aku pulang sekolah. Sehabis pulang sekolah aku tak langsung pulang ke rumah. Aku harus mencari uang tambahan untuk makan aku dan ibuk. Ibu yang hanya kerja sebagai buruh nyuci hanya dapat membayar uang listrik dan air dan hasil buruh nyucinya. Apalagi fisik ibuk yang sekarang sudah separo baya yang tenaganya tidak seperti dulu lagi.
Terpaksa aku harus bergelut dengan Asap hitam yang mengepul di jalan raya ini. Aku pun tak merasa malu, saat perut ini berbunyi dan nasib ku beradu dengan kehidupan. Apalah daya impian dan cita-citaku pun. Akan aku gadaikan demi memenuhi kebutuhan hidup ini. Impian yang tinggi sejenak aku turunkan kedalam jurang. Karena ibu tak mampu membayar uang sekolah. Untuk makan saja aku harus mengamen dan menjadi kernet. Apa lagi menjunjung cita-cita yang tinggi tuk menjadi profesor atau doktor. Hal ini bagaikan mimpi yang mustahil.
Ku nyayikan lagu dari satu bus ke bus yang lain dari satu angkot keangkot yang lain. Akhirnya kumasuki sebuah bus dan ku nyanyikan sebuah lagu sambil memetik gitar yang aku bawa.
“Tolong lihat aku dan jawab pertanyaanku mau dibawa kemanaaaa hubungan kita…..aaaaaaaa”.
Bapak bapak yang duduk korsi yang aku sandari pun mencolekku. Aku pun memalingkan wajah ku. Aku sudah tahu kalo bapak ini mau minta lagu lain. Lagu yang sesuai dengan seleranya.
“bapak mau lagu apa?. Lagu Pop, Jass, Dangdut, Campursari, apa lagu koplo pak” tanya ku sambil menaik turunkan kedua buah alis ini.
“ Lagu apa ya Nak. Sek…sek…sek tak lihat-lihat kamu ganteng juga ya nak. Nah anak ganteng masih ada yang ngamen ya. biasanyakan anak ganteng gengsi gitu ngamen di Bus. Kenapa kamu ngak ngamen di Cape….cape tempat nongkrong anak muda itu luh”. Aku pun mengeleng-gelengkan kepalaku. Suara munggil gadis SMA pun menyahut bapak tadi.
“bukan Cape pak…. tapi cafe”… seluruh orang yang ada di dalam Bus pun tertawa penuh riang saat gadis SMA itu mebenarkan kata-kata Bapak-bapak tadi.
“boten pak…. nanti kalo saya ngemen di Cafe-cafe Afgan bisa-bisa dapet saingan baru pak”.
“yowes… Bapak. Mita lagu apa?”
Asam keringat dan berbagai macam bercampur menjadi satu dengan asap hitam yang mengepul dari kelnapot-kenalpot kendaraan yang yang berlalu lalang memasuki bus melalui ventilasi-ventilasi kaca dan pintu-pintu bus yang terbuka lebar. Sesekali udara seger masuk tapi tak sampai hitungan detik angin segar itu musnah di lahap bau sap kendaraan dan bau khs setiap manusi yang menaiki bus ini. Saat kulit lengket para penumpang harus bertanbrakkan dan bergelutlah dengan keringan yang mengucur dari masing-masing kulit. Terbentukkalah sebuah bau yang amat khas bau yang membuat badan dan hidung ini gerah. Seakan-akan ingin muntah dan berkelauh kesah sepanjang jalan karena menghirup bau yang tak sedap di dalam sebuah bus.
Ini lah fenomena di indonesia yang tak pernah bisa di tangaulangi kemacetan dan kepadatan kendaraan membuat indonesia semakin lama sekamakin panas. Pemanasan global dari tahun ketahun semakin meningkat. Bahkan di kabarkan glaiser di kutub utara sudah mencarai sebesar benua ………… dan menegelamkan beberapa pulau kecil. Kalo difikir-fikir jika asap kendaraan tak dapat di tanggulangi lapisan ozon yang berlubang akan bertambah semakin lebar. Sudah kita lihat dampaknya banyak binatang-binatang langka punah karena kehilangan habitatnya.
Dulu saat aku masih kecil sering kulihat kupu-kupu…… dan udara di siang hari masih sejut tak panas. Pohon-pohon buah pun masih bertebaran dimana-mana membuat udara dan suasana semasa kecil ku semakin sejuk. Tapi sekarang ini indonesia bahkan kota kecil ku penuh dengan kedamain ini sudah mulai panas. Bisa dikatakan bukan mulai panas tapi memang sudah menjadi panas.
Aku fikir-fikir ini semua bisa terjadi karena kemajuan IPTEK yang cepat tapi tidak di imbangi dengan kemajuan ilmu pengolahan Alam yang baik. orang-oranag lupa untuk mejaga alam tapi manusia mau untuk merugikan alam tanpa memberikan imbalan yang layak untuk alam. Inilah keegoisan manusi bila sudah dikenalkan dengan kenikamatan dunia. Manusia tidak mau bersusah susah untuk mendapatkan sebuah keindahan alam bahkan manusia sulit untuk membuat keharmonian alam. Alam hanya bisa menagis saat semua manusi mengambil dan merusak bagian darinya tanpa mau menggati dan menghargai. Alam hanya diam dan menagis menunggu Sang pencipta Alam melakukan pembalasan untuk manusia yang yang melupakan tugasnya di bumi ini.
“Pak minta lagu apa”
“ aku minta lagunya wali aja nak. Yang judulnya TOMAT…… golek lirike sek.
Saat bergelut dengan raga ini serasa mata dan hati ini tertutup oleh kegelapan asap kendaraan yang membuat hata dan hati ini tidak malu tuk menanyi sembari mengulurkan kaleng susu untuk menampung recehan-recahan yang kudapat dari seseorang yang dermawan. Kadang hanyak kilatan mata tajam saja yang kudapat saat mengulurkan kaleng susu ini. Bahkan hinaan yang kudapat. Akhirnya kuhitung rupiah demi rupian dan kusimpan kedalam tas ranselku.
Saatnya bergelut dengan asap kendaraan angkot. Aku pun pergi untuk menjadi kernet di angkot pak dadang.
“hallo Pak gimana. Penumpangnya rame pak”. Pak Dadang pun mengipas-ngipaskan handuk dilehernya untuk mengusir para keringat yang keluar dari tumbuhnya pun berkata.
“ Rame gima Za. Kamu cah bagus yang buat penumpang bapak rame maleh dateng terlambat”. Aku pun melepar tawa ke pak dadang
“ ah pak Dadang bisa aja. Aku gateng ya pak. Kayak robert patison yang main twilight itu ya pak?”
aku dan pak dadang pun melempar canda agar fikiran kami tidak setres karena bergelut dengan Asap hitam kendaraan di jalan raya ini. Tak disangka Anak SMP yang naik nagkot pun ikut masuk dalam candaan kami.
“ ya mas. Mas kayak robert pattison gateng baget yang selisih 1112 ko’. Makanya aku selalu naik angmkotnya pak dadang biyar bisa ketemu sama mas ganteng. Kalo boleh tahu nama mas siapa”
ujar anak SMP itu kepadaku. Aku pun membalasan ucapan Anak SMP itu dengan rasa PD.
“ Wah Mas kayak Suaminya Bella Swan ya. wah kalo gitu adik tak kasih tau nama mas ya?”.
gadis SMP itu pun nampak menunggu-nunggu agar aku menyebutkan namaku. Nampak mata Anak itu berbinar binar.
“Nama kakak Faeyza Faiz Al Ghaisan. Bisa di panggil Eyza”.
Aku pun menagnkat kedua alis mataku sambil menyakikan kalo namaku itu baguskan.
“ wah nama mas bagus ya. keren kernet namanya Eyza”. Pak dadang yang mersa dicuekin pun ikut ambil bicara.
“ehem…ehem… faiz…faiz..maunya aja dipanggil Eyza biyar kayak anak kota”.
“ alah pak dadang sirik aja. Aku pergi nich biyar pak dadang gak dapet penumpang”. “ jangan…jangan Mas Ganteng Faeyza bapak Cuma bercanda”.
Tak tersa tawa kami memecah keramaian lalu lintas yang membisingkan telinga ini.
“ Ramayana, panzi, pasarsapi, Ngawen, Warak”.
ku ucapkan kalimat ini berulang ulang kali untuk menarik penumpang agar mau masuk di angkot nomor sebelas ini.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Saatnya aku dan pak dadang pulang. Maklum setelah pukul 5 sore biasanya para penumpang sepi karena mejelang malam. Dan kegiatan bergelut dengan asap pun usai. Pak Dadang pun menghitung uang setoran.
“ wah lumayan Za dapet banyak. Untung ada kamu cah bagus. Angkot bapak jadi rame di naikin para cewek-cewek”.
Aku pun menjawab Pak dadang sambil mengulurkan tangn
“hehehehe.. mana upahnya pak dadang”
aku yang sudah tak sabar medapat upah dari pak dadang terus menyodorkan kedua tangan ku.
“ ya ini upah untuk mu Za. Rp.35000”.
aku pun melempar senyum ku ke padadang sembari melangkakah kaki ini untuk membeli makanan untuk makan malam ku dan ibuk.
“ thanks you very much pak”.
“ ya sama-sama Cah bagus berkat kamu juga angkot Bapak Laris.”
Meskipun aku tidak dapat menjadi kernet pak dadang setiap hari. Tapi pak dadang selalu beraharfap aku bisa mejadi kernet akutnya tetap dan tidak melepaskan sekolahku.
“Buk ini Eyza bawa nasi bungkus buat makan malam. Ibuk sudah makan?”.
Sahutku kepada ibuk yang memasak air di dapur.
“ ya ibu sudah makan tadi masa nasi lauk tempe.” Aku pun memaksa ibu agar mau makan lagi sambil merayu.
“ ini eyza tadi ngernet dapet uang lebih eza beli nasi bungkus ikan. Ibu makan lagi ya. biyar ibuk sehat”. Ibu yang jarang memasak ikan pun makan dengan lahapnya.
“ ya makasih nak. Tapi kamu ntadi tidak bolos sekolah kan? Kamu boleh ngernet asal kamu tidak meninggalkan sekolahmu. Ini ibu sedang menabung untuk bayak SPP kamu yang menunggak selama 3 bulan”.
” Ya Buk Eyza tetap sekolah ko”.
Setelah makan malam kurebahkan badan ini tul melepaskan kelehanku setelah bergelut dengan Asab kemdaraan.
@
Bidadari di Angkot
Deru mesin-mesin kendaraan silih bergilir, asap kendaran yang mengepul hitam merasuk kedalam rongga dadaku yang merasakan kepedihan hidup yang mendalam.
“ Eyza kamu gak sekolah ?”
seru pak dadang supir angkot yang selalu kutumpangi itu, terkadang kalo aku malas masuk sekolah aku ikut pak dadang jadi kernet dari pada kesekolah harus di panggil ke ruang BK karena kenalanku dan belum bayar SPP yang sudah mengunggak selama tiga bulan. Prestasi tak ada tapi masalah selalu saja ada membuat badan ini malas bergerak ke sekolah. Keluarga pas-pasan emak buruh nyuci, bapak minggat sama wanita lain.
“Pak Dadang memang hidupku ini tidak beruntung ya”.
“Hust gak baik bicara seperti itu Za kamukan masih punya Mak yang selalu menyanangimu” seru Pak Dadang.
“ yo wes sana masuk sekolah sebetar lagi kamukan ujian kelulusan SMA, sana belajar yang rajin biyar bisa dapet kerja yang baik”.
“ Ah, ndak Pak aku mau ngamen saja cari duit buat jajan dan Emak”. “Yo wes terserah kamu Za”.
Ku masuki satu persati angkot yang berhenti didepan Ramayana sabil menyanyikan lagu. Kulihat dipojok angkot seorang wanita berjilbab coklat yang kulitnya bergitu bersih cantik bagaikan bidadari. Ku sodorkan kaleng susu ku kepada wanita berjilbab itu.
“ mbk….mbk…”
suara cricing uang recehpun membuat wajah gadis elok itu terangkat sontak gadis itu menatap ku. Jantungku tiba-tiba berdegub kencang kulihat sorot wajah gadis cantik itu begitu tajam sambil mengeryitkan dahinya.
“ masih muda kok ngamen apa gak ada perkerjaan lain, apa lagi masih pakek seragam sekolah lebih baik berangkat sekolah biyar jadi pria yang berguna kelak”.
Aku pun tertunduk malu mendengar gadis cantik itu berucap seperti itu. Tak disangka zaman seperti ini masih ada gadis yang seperti ini, aku pun semakin penasaran dengan gadis itu. Setiap pagi aku selalu menyusuri angkot angka sebelas satu persatu tak disangka gadis itu berada di dalam angkot Pak dadang.
Aku pun segera berpura-pura menjadi kernet pak dadang.
“ Ramayana,Pasar sapi, Ngawen, Warak Mbk mau kemana” tanyaku sambil tersenyum.
“ o, kamu pria yang ngamen kemarin ya”,
“ iya Mbk, saya sekarang jadi kernet angkot nomor 11 ini”.
Sontak wajah gadis cantik itu terlihat bingung sambil mengulurkan uang Rp2000an kepadaku sambil berkata.
“Nah, kerja seperti inikan lebih bagus dari pada kemarin jadi tukang ngamen”.
Hatiku pun terasa melayang saat mendapat pujian dari gadis berjilbab coklat itu
“ Mbk darimana” gaya ku basa-basi bertanya agar tahu namanya
“ ini saya dari kulliah” akupun bertanya
“ boleh kenalan mbk?”.
Gadis cantik itu langsung menatapku dengan muka tajam kemudia mengalihkan mukanya ke jendela seolah-olah tak mendengar pertanyaanku. Sebenarnya aku tahu kalo gadis berjilbab itu juga malu-malu ku ajak kenalan.
“berhenti di pasar sapi pak. Kalo ingin tahu namaku apa kamu bisa baca surah Al-Fatehah”.
akupun menggeleng
“ kalo kamu sudah hafal nanti kamu ku beritahu namaku”.
Pak Dadang pun tertawa terbahak-bahak
“ alah Za cah bagus, kamu baru kali ini ya ngajak kenalan cewek di tolak”. aku pun cengengesan,
“pak Dadang, bapak hafal Surah Al-Fatehah gak? Aku di ajarin ya?”
“ Oalah, Za anak ganteng kok gak hafal Al-fatehah agamamukan islam Za”
aku pun termenung mendengar kata-kata Pak Dadang. Teringatlah aku kepada kenangan semasa kecilku. Bapakku memang orang yang tampan tinggi gagah, hidung mancung, dan berkulit putih. Namun bapak tak pandai dalam mencari uang adanya malah bapak di krubuti para gadis-gadis muda dan para janda-janda yang kurang kerjaan mengoda suami orang. Memang emakku bukan wanita cantik namun Emakku wanita yang lembut yang mengamdikan hidupnya tulus untuk Bapak dan selalu menjaga kepercayaan Bapak. Pernah suatu hari saat usiakku tujuh tahun saat berangkat mengaji aku dicegat segerombolan laki-laki besar, mereka langsung menamparku.
“ O, Faeyza Faiz Al Ghaisan anak lelaki bejat itu, yang berhutang bayak demi menyukupi keperluan wanita pujaannya”.
Aku yang masih kecil belum tahu apa-apa mendapatkan imbas perbuatan Bapak yang tak bertangung jawab itu.
“ bilang sama bapamu kalo dia masih berhutang kalo tidak segera dibayar kami akan menggumu di tempat ini dan menghajarmu”.
Sejak saat itulah aku tak pernah menapakkan kaki untuk berangkat mengaji di Mushola dekat kelurahan itu. Karena aku dan Emak sudah pindah ke desa lain untuk melarikan diri dari penagih hutang. Bapak pun meningalkan kami berdua karena wanita idamannya.
“Heh, kenapa ngalmun cah bagus” ujar pak Dadang sambil menepuk pundakku.
“Ah, ndak apa-apa pak, pak jangan lupa aku dicatatatkan surat Alfatehah ya”.
“ ya, beres” ujar pak Dadang.
Aku pun tak dapat melpaskan bayangan gadis berjilbab itu. Tak biasanya perasaan seperti ini menjamur di hatiku. Aku yang biasanya cool dengan para gadis-gadis yang mencobamendekati sekarang mulai merasakan kalo Es yang ada didalam dada ini mencari mencari tempat tuk di aliri. “ Perasaan apakah ini”. Aku pun tersenyum-senyum sendirian saat mengingat gadis itu.
“plak” sebuah koran wawasan mengenai kepalaku.
“ heh cah Bagus Eyza kenapa kamu ngalamun? Entar kesurupan luh”.
Aku yang kaget karena di pukul padadang sontak menjawab.
“ ya..ya..ya kesurupan bidadri itu luh”.
“ hayo bidadari siapa Za?”.
“ ah gak siapa-siapa. Gima pak Siap ngajari aku Al fatehah Ndak?”.
Pak dadang pun melemparkan senyumnya sambil mengedipkan matanya.
“ ya Siap Dong Pak dadang gitu luh. Biarpun supir Angkot sholat selalu lima waktu dan masalah ngaji kurang lebihnya juga bisa atuh Za”. Ku acungkan ke dua jempol ku kearang muka Pak Dadang
“ Sipz.. itu namanya supir gaul pak”. Godaku sambil Merayu pak Dadang agar dia segera mengajariku menghafal surat Al-Fatehah.
Setelah mengajari ku surat Al-fatehah dimanapun aku berada surat itu selalu ku ulang-ulang agar aku tidak salah dan lupa. Di dalam angkot. Di terminal, di tempat nongkrong, sampai-sampai Toni teman sebangku aku suruh untuk menyemakku. Aku tak tahu kenapa mulut ini begitu ringan untuk selalu membaca surat al-fatehah ini. Saat menunggu penumpang pun ku baca surat ini dengan penuh semangat.
“ Wah, kamu insyaf ya Za. Akhir-akhir ini kok bacanya surat Al- fatihah melulu”.
Goda teman-teman terminal kepada ku. Aku pun menjawab dengan nada tenang
“ kiamat sudah dekat Bro. Buruan belajar ngaji kalo gak bro. Bisa –bisa waktu kiamat kita belum tobat. Wah ngeri Bro siksaannya”.
Godaku kepada anak-anak terminal agar mereka tidak menggodaku lagi. syukur-syukur mereka mau ikut hafalin surat denganku. Aku akan merasa lebih tertolong karena memiliki teman menghafal yang banyak biayar tambah fasih hafalannya.
“Ah yang benar Bro. Sebentar lagi mau kiyamat”.
Terlintas fikiran ku kepada ramalan mama lorent. Yang kata peramal terkenal itu. Yang katanya kalo 2012 akan kiamat atau apalah. Tapi aku pun tidak percaya. Yach biyar mereka tidak bertanya panjang lebar ku timpali mereka dengan kisah mama lorent.
“ Yo’i bro. Katanya mama lorent kiamat sebertar lagi Bro yach 2012 sich katanya. Kamu tau gak kiamat itu buat siapa”.
Mereka pun menampakkan wajah serius dan tanpa berkedip mereka menanti jawabanku.
“ dengerin baik-baik ya Bro. Kiamat itu buat siapa coba?”. Mereka pun semakin membelalakan matanya
“ Bro Za. Buat siapa luh”. Aku pun menahan tawa saat menjawab pertanyaan mereka.
“ Coba tebak kimamatnya siapa Bro?….. ya kiamatnya Mama lorent lah. Karena mama loren udah gak bisa ngelihat dunia ini. Dan benar itu sebuah kiamat tapi itu kiamat kecil Bro alias mati”.
Sontak anak-anak terminal menimpali badan ini dengan tangan mereka.
“ alah…alah Bro Za. Kita-kita udah serius malah situ becandaan”.
Aku pun mengernyitkan dahiku sambiul menampakkan muka yang serius.
“ coba Bro. Dengerin penjelasan ku. Umur orangkan gak tau Bro kapa di panggil ama sang pencipta. Bisa aja sekarang , besok atau lusa bro Nah kematian inilah kiamat kita bro. So Bro kalo orang bilang kiamat itu tahun 2012 bisa aja bro. Itu kiamat kematian yang bisa menjemput ajal setiap manusia. Tapi untuk kimat yang benar-benar dasyat hanya Allah yang tahu Bro”. Merekapun terganganganga saat aku berbicara panjang lebar tentang kiamat.
“ Bro kamu kok bisa bilang kayak gitu. Aku jadi merinding dech. Za kamu persis kayak Ustadz-ustadz gaul di TV. Sana insyaf trus jadi Ustadz biyar kami bisa ikutan ngaji bareng kamu. ngomong-omong kamu bisa berubah 100C karena siapa Bro?”.
Aku pun malu-malu menjawab pertanyaan teman-teman Angkot ku. Akhirnya ku jelaskan kepada mereka kalo aku bertemu dengan seorang bidadari di angkot pak Dadang. Merekapun sempat menganggap ku aneh
“ Eh Za kamu ngigau ya jaman gini ada bidadari naik angkot”.
Aku pun menjelaskan kepada mereka dengan panjang lebar semangat yang mengebu-gebu pun turun andil saat ku mulai bercerita tentang bidadari di angkot itu.
“ bener Bro. Bidadari itu naik angkotnya pak Dadang. Bidadri itu berjilbab Bro. Kulitnya putih, hidungnya mancung, senyumnya kayak bunga merekah. Tatapan matanya seperti berlian kalo terkena cahaya bening bersinar-sinar. Bidadari itu suaranya lembut. Saat bidadari itu ku ajak kenalan. Malah surat Alfatehah yang diberikan kepadaku.”
Teman-teman yang ikut tersihir ceritaku pun amat penasaran dengan ceritaku.
“ trus…trus bidadarinya bilang apa lagi”. Bidadari itu bilang
“kalo kamu sudah hafal nanti kamu ku beritahu namaku”. Sontak teman-teman angkot ku pun tertawa sambil penasaran.
“ Wah seperti apa bidadari yang kamu puja-puja itu toh Za. Dia sepertinya gadis baik-baik Za kenalan aja minta di bacaain surat Al-fatehah. Mungkin gadis itu juga ada rasa sama kamu Za. Kamukan ganteng. Tapi karena kamu anak angkotan maka bidadarimu itu ngetes kamu Bro”.
Hati ku pun berbunga bunga saat medengar kesimpulan yang di ambil teman-teman angkot ku itu.
“ wah bisa jadi bro. Ya Doanya ya Bro biayar aku bisa kenalan dengan Bidadari angkot itu”.
“Sipz… tapi jangan lupa kita-kita di kasih tahu Bidadarinya yang mana ya?”. aku pun mengangguk penuh semanangat. “ beres Bro”.
@ Semangat yang kembali
This slideshow requires JavaScript.
Sejak pertemuanku denga ana kemarin aku merasa hidupku lebih terarah. Aku tak tahu kenapa batin ini tiba-tiba terdorong untuk masuk sekolah lagi. Maklum sudah 3 hari aku bolos lagi untuk mengumpulkan uang untuk bayar SPP.
“mak, Eyza berangkat sekolah dulu ya”,
“ ya nak, hati-hati dijalan ya”,
“Assalamualaikum”.
Ibu pun kaget saat aku mengucapkan salam.
“tumben anak itu berangkat sekolah berpamitan dan mengucapkan salam, syukurlah kalo anak itu sekarang berubah”.
segera ku pasang jurus seribu bayangan untuk pergi meninggalkan rumah ini. Kulangkahkan kaki ku ini dengan penuh semangat. Kulihat beunga-bunga di terotoar seakan berbisik bisik iri kepadaku karena aku dapat melangkah secara leluasa menuju tenpat yang ingin aku tuju. Tapi aku pun iri saat melihat bunga yang berjejer rapi di tepi totora itu. mereka nampak kuat dan memberikan seluruh jiwa raganya untuk memberi manfaat sekelilingnnya. Bayangkan kalo gak ada bunga lebah cari makan dari mana, ulat belalang, kupu-kupu dapat makan dari amana hayo?. Manusia tidak akan bisa mengenal bebagai macam keindahan warna kalo tak ada bunga. pikiranku terbang melayang-layang saat melihat bunga di pinggir trotoar menuju sekolhan ku.
“Heh sadar malah mikir bunga”
ujar ku pada diriku sendiri. Akhirnya aku berhadapan kembali dengan gerbang besar yang bagiku sersa seperti kerangkai Zoo Park. Ku ucapkan bismillah sambil melangkahkan kaki ini berharap aku tidak di panggil ke BK lagi karena doa yang kutahu hanyalah bismillah. Satu…dua..tiga akhirnya ku langkahkan kaki ku ini tuk memasuki kerangkai besar itu. Sapaan teman-teman pun tak berhenti kepada ku sampai aku memasuki kelas. Akhirnya Absent pun di mulai.
“Faeyza Faiz Al Ghaisan”
“ hadir”
pak tono pun memangilku lagi
“Faeyza Faiz Al Ghaisan”
“Hadir”.
“ternyata kamu berangkat Za, bapak kira kamu keluar, Za ada pesan dari buk Khusnul katanya sehabis istirahat kamu disuruh menghadap kerungannya”.
Aku pun bingung kenapa bu khusnul memanggilku, apa ingin memberi binbingan karena tidak bayar SPP selama 3 bulan atau apa?. Yang terlintas-lintas di fikiran ini hanyalah sosok pak badrun suami ibu Khusnul yang akan memarahi ku karena aku boles dan masih menunggak SPP selama 3 bulan. Selama pelajaran pak tono fikiran ini serasa tidak tenang sama sekali. Toni teman sebangku ku pun menyikut tanganku.
“ kamu kenapa Za kok terlihat risau begitu”.
“ ah gak tau nich Ton pikiranku lagi gak tenang mikir di panggil bu Khusnul”
“ Eh Za, kamu mikirin bu Khusnul apa suaminya si raksasa keadilan itu”
“hem maksud kamu Pak Badrun Ton”.
Toni pun menganggukan kepalanya sambil menatap wajah ini dengan muka yang begitu tegang. “ teng..teng..teng” Bel istirahat pun berbunyi. Jatung ini berdegup sangat kencang saat melangkahkan kaki ini menuju ruang Guru. Menja bu Khusnul ya. ehm nah itu dia sosok bu kusnul yang begitu ramah pun melambaikan tanganya untuku. Sangat bertolak belangkang sekali dengan Pak Badrun Raksasa keadilan yang menakutkan itu. Aku pun mengaukan kepalaku dan melangkakkan kaiki ku yang jenjang ini menuju meja bu Khusnul.
“Bu. Ada apa ibu memanggil saya? Apa karena nilai saya buruk atau kesalahan saya yang lainya bu”
aku benar-benar cemas memikirkan hal apa yang akan terjadi kepadaku setelah pertemuanku ndengan bu Khusnul. Saking gugupnya kakiku menghentak-hentak dengan sednirinya yang membentuk beberapa suara decitan sepatu. Ibu Khusnul yang tahu kalo aku begitu gugup dan cemaspun. Segera menenangkanku sambil menjelaskan kenapa ia memanggil ku.
“ Za ibu sudah tahu latar belakang kehidupan keluarga kamu yang kekurangan. Kemarin suami ibuk bercerita panjang lebar tentang alasan kenapa kamu menunggak untuk bayar SPP. Ibu sangat perihatin sekali saat mendengar cerita itu dari suami ibu”.
Aku pun hanya terdiam mendengarkan perkataan Bu khusnul itu. Pak badrun yang garang itu sempat bercerita kemalang hidup ku ini kepada istrinya yang baik hati ini. Aku kira pak badrun itu hati baja. Yang suka menghakimi murid tanpa pandang bulu pasti murid yang sudah mendapat bimbingan darinya tidak akan berulah lagi. Tapi ini malah sebaliknya. Kenangan yang kudapat dari teman-teman tentang pak Badrun sungguhlah sangat berbeda. Hah aku mimpi atau tidak ini. Suara lembut bu khusnul pun Membelah keheningan batin ini.
“ Eyza, kenapa kamu diam saja. Coba ceritakan permasalahan yang kamu hadapi. Sampai-sampai kamu menunggak SPP selama 3 bulan. Mungkin Ibuk bisa bantu”.
“Za ibu harap kamu mau berkerja di toserba ibuk, ya lumayan nanti uang gaji kamu bisa kamu pakek buat bayar spp dan bantu ibu kamu”.
Aku pun berusaha menghentak hentakkan kepalaku agar tersadar. Apakah aku mimpi bu khusnul menawari aku kerja di Toserbanya?. Badan yang tadinya tersasa kaku pun mulai melemas saat bu khusnul mengutarakan maksud baiknya itu kepada ku. Rasanya kayak dapat durian runtuh. Takut kena durinya Pak Badrun tapi saat di teliti lagi bukan dapat durinya tapi malah dapat buahnya yang enak alias dapat bantuan dari Bu Khusnul yang baik hati ini. Tapi hati ini serasa tertumpuki batu besar karena aku salah duga.
Pak Badrun yang kukira garang itu malah berbalik membantuku. Aduh harus gimana nich aku merasa bersalah sekali dengan Pak badrun karena sudah berprasangka buru. Memang kita tak boleh menilai orang itu dari covernya aja alias dari tampangnya aja, toh kita gak tau isi hati orang, orang yang aku anggap menakutkan malah baik.
Orang yang aku anggap aneh malah mau menolongku. Orang yang sering dijadikan leluconan karena kengeriannya malah mengulurkan tanganya untuk ku. Raksasa penegak keadilan yang aku sangka ganas dan tak punya belas kasihan malah sebaliknya. Dia orang yang amat baik yang mau menolongku agar terlepas dari musibah ini. Aku harus gimana rasa bersalah karena berprasangka buruk pada pak Badrun pun membuat hati ini gemetar medengar penjelasan dari bu Khusnul. Aku ingin menolak tapi…. Aku benar-benar membutuhkan perkerjaan untuk membayar SPP yang menunggak. Dan aku putuskan…. aku akan menerima tawaran bu khusnul setelah itu minta maaf pada pak Barud karena sudah menggapnya raksasa menakutkan. Akhirnya ku anggukan kepalaku dengan penuh paksaan dan rasa bersalah.
“ baik bu, saya mau”
“ ya sudah berkerjanya mulai besok ya mulai jam 4 sampai jam 9 malam. Besok kamu langsung saja ke Toserba ibu. Kamu bisa menemui anak ibu yang mengelola Toserba ibu. Nama anak ibu Herlambang”.
“ ya bu terimakasih banyak. Besok saya akan menemui anak ibu. Bu pakaian apa yang harus saya pakai?”
“kamu pakai baju kemeja putih dan celana hitam saja. Semoga kamu betah kerja di toserba ibu. Jangan sungkan-sungkan bertanya sama ibu atau suami saya. Bila kamu mendapatkan kesulitan atau butuh bantuan”
“ ya bu. Terimakasih banyak”
“ ya sama-sama Za, ibu merasa sayang kalo kamu sampai putus sekolah karena tidak bisa bayar SPP. Karena bagi ibu kamu anak yang baik dan pintar mungkin karena latar belakang kamu yang suram dan himpitan perekonomian yang buruk kamu jadi anak yang agak bandel. Tapi ibu ingin kamu lulus dengan nilai baik. Dan menjadi anak yang bermanfaat dan sukses. Kamu harus semangat meyongsong masa depan kamu. jangan pernah putus asa. Karena You are What you think. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Jika kamu berfikir kamu berhasil dan dapat melalui cobaan ini maka kamu dapat melalui cobaan dari Tuhan ini dengan mudah. Ibu yakin jika kamu sabar dan ulet kamu pasti bisa sukses”.
Aku yang merasakan hembusan kasih sayang dari bu Khusnul pun serasa mendapat cahaya Kasih sayang seorang guru yang sesungguhnya. Perkataan ibu Khusnul sungguh mencabuk hati ini agar mau berubah menjadi lebih baik. You are what you think kalimat ini mengiang-ngiang di telinga ini dan merasuk kedalan batin ini. Serasa hati ini mendapat semangat baru untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Rasanya Aku tak bisa membendung hati dan raga untuk melangkahkan kaki keluar ruangan guru ini tanpa mencium tangan bu Khusnul yang begitu baik dengan ku itu. Tak terasa badan ini bergerak mendekati bu Khusnul dan menyambar tangan bu khusnul yang berada di atas mejanya sembari mencium tangan bu khusnul ku ucapkan kata-kata terimaksih dan syukur yang tak terhingga.
“ Bu khusnul terimaksih banyak ya. Saya bingung harus membalas kebaikan ibuk dengan apa”.
Tak terasa butiran air bening berkumpul di pojok mata ini dan menjatuhi tangan bu khusnul saat aku mencium tangan bu Khusnul. Bu Khusnul pun meletakkan tangan kiringa di pundakku dan mengusap-usap punda ini penuh dengan kasih sayang. Bu Khusnul mengusab-usab pundakku sambil menpuk-nepuk agar aku satak terlarut dalam keharuan siang itu. Aku pun segera menghentikan tetesan air mata yang keluar dari sela-sela mata ini
“Za. Ibu tak mengharap imbalan uang dari kamu. ibu hanya berharap kamu rajin sekolah dan belajar dengan rajin”.
“ya bu. Eyza janji akan menjadi lebih baik”
Serasa Ruh, Jasad, dan fikiran ini mendapat tiupan semangat untuk bangkit melawan nasib buruk yang melekat di badan ini. Dua sosok ibuk dan ibu yang berusaha memberikan semangatnya untuk anaknya agar mau berubah menjadi lebih baik. aku akan berusaha agar tidak mengecewakan ibuk dan Bu khusnul dan satu lagi Kesatria penyelamatku Pak Badrun. Istilah Raksasa penegak keadailanpun kini ku ubah menjadi Kasatria penyelamat ku.
Akhirnya kulangkahkan kaki ku yang masih gemetar karena keharuan dan kebahagian ini melangkah keluar ruang guru. Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melihat meja bu khusnul dan aku mendapatkan senyuman santun bu khusnul saat menatap mejanya. Akhirnya ku langkahkan kaki ini memasuki kelas dengan keadaan hati yang lebih ringan dan plong.
Aku pun mencoba menceritakan semua kejadian yang aku alami di ruang guru tadi kepada teman sebagku ku. Teman sebangku yang selalu memahami dan memperhatikanku. Tanpa basa basi ku tepuk pundaknya.
“ Ton aku merasa bersalah sekali dengan Pak Badrun” toni pun segera mengeser kursinya menghadap kursiku.
“ merasa bersalah kenapa Za, kamu bikin pelanggaran lagi tow?
“Bukan…bukan karena itu. Tadi bu Khusnul istri pak Badrun memanggilku ke ruang guru. Dan ternyata bu Khusnul memberikan aku perkerjaan. Bu Khusnul bilang kalo pak Badrun telah menjelaskan keadaan perekonomian keluargaku dan masalah yang sedang ku hadapi. Aku merasa bersalah karena aku tlah berfikiran buruk kepada pak Bardrun”. Toni yang mersa kaget pun segara memberikan saran
“ jadi pak Badrun tidak seperti gosib-gosib yang beredar di mulut anak-anak ya?” aku pun mengelengkan kepalaku,
“tidak. Justrus kebalikannya”
“kalo gitu kamu harus minta maaf kepada pak Badrun dan jangan lupa ucapkan terimakasih. Setelah mendengar ceritamu ini aku jadi ikut mersa bersalah dengan Pak Badrun karena pernah ikut bicaraain pak Badrun dengan teman-teman yang lainnya. Bagaimana kalo kita minta maaf bersama-sama”. Aku pun mengedipkan mata tanda setuju.Akhirnya bel pulangpun berbunyi.
“Bagai mana Ton mau sekarang atau besok menemui pak Badrun”
“ Ya lebih baik sekarang aja biayar hati ini gak ada batunya. Rasanya berat nich Za bawa batu kemana-mana rasanya gak tenang”.
Uacaplah toni seperti menyadarkan ku. Kalo aku benar-benar tlah salah berfikir tentang Pak Badrun. Walaupun ucapan Toni di bumbui dengan candaan tetap saja rasa batin ini tidak nyaman. Aku benar-benar gerah merasakan persaan bersalah ini. Aku ingin segera lari menghampiri pak Badrun dan memeluknya lalu berkata. Maaf pak saya telah menggap bapak raksasa keadilan yang tidak memiliki belas kasihan. Tapi semua fikiran buruk tentang bapak semua itu salah, ternyata bapak berubah mejadi kasatria penyelamat saya pak. Tepukan Toni pun menyadarkan ku.
“ Ayo Za. Malah diam aja. Bisa-bisa pak Badrun pulang duluan nich”. Aku pun segera menyusul langkah kaki Toni.
“Ton..Ton tuunggu aku”.
Seperti biasa kelas 12 E sudah kulewati, ruang guru sudah kulewati, ruang kepala sekolah sudah ku lewati, tinggal menuruni tangga dan sampailah aku di ruang BK yang pintunya bercat hitam dan dalamnya bercat hijau. Toni pun mendorong-dorong badan ini.
“kamu duluan za”
“ Ah kamu dulu dong”
“aku takut Za. Pak Badrun kan….”
“Hust.. kamu mau bilang apa Ton? Kamu duluan ya Ton, aku ngikut dibelakang kamu”
“Eh… gak bisa.. tadi yang ngajakkan kamu”
Kami pun saring dorong satu sama lain. Dan akhirnya kucium pintu besar itu sampai-sampai berbunyi “gubrak”. Dan akhirnya badan ini terguling memasuki ruang BK. Dan kami pun di sambut dengan suara besar khas pak Barun.
“ ada apa nak? Kok malah main guling-gulingan di BK. Mau minta Hukuman ya”
“Em… tidak paka…. saya dan Toni kesini mau minta maaf……”Belum usai aku berbicara. Pak Badrun yang melihat ku terjatuh pun ber ucap.
“ Kamu… Za… Bu khusnul sudah menemui mu? Bagaimana kamu maukan dengan tawaran ibu Khusnul.?”
“ Ya pak. Saya kesini justru mau mengucapkan terimakasih dan minta maaf”. Pak Badrun pun merasa bingung karena aku mengucapkan kata maaf.
“ kenapa kamu minta maaf Za. Bapak rasa kamu tidak ada salah dengan bapak”
“sebelumnya saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak. Karena bapak sudah mau menolong saya. Yang kedua saya mau minta maaf karena…. saya pernah menganggap bapak Raksasa yang menakutkan yang menghukum siswa-siswa tanpa belas kasihan.”
Pak Badrun pun mengernyitkan kedua buah alisnya dan sesekali mengusab kumis tebalnya. Aku benar-benar merasa takut serasa lagit mau roboh ke atas kepala ini. Aku pun mengapai tangan toni dan meremasnya karena aku benar-benar gugup.
“ hahahahahaha…. Hal seperti itu sudah biasa Za. Siswa-siswa yang belum mengenal bapak dan melihat bapak dengan sekilas pasti bilang seperti itu. Bapak bukan menakutkan tapi tegas. Bapak akan tegas kepada anak yang benar-benar sudah tidak dapat dikendalikan lagi dengan peraturan sekolah. Dan bapak akan menolong anak yang membutuhkan bantuan. Asal anak itu tidak berbohong kepada bapak”.
Aku dan toni pun terganga-nganga melihat tawa pak Badrun yang memecah kesunyian siang itu. Benar kata teman-teman bila Bk itu ruang di antara surga dan neraka. Surga untuk anak yang baik dan membutuhkan pertolongan dan Neraka bagi anak yang nakal dan tak dapat dikendalikan dengan peraturan.
“ Pak saya juga minta maaf” ujar Toni kepada Pak Badrun
“ya Nak Bapak memaafkan kalian berdua. Bapak Cuma berpesan kepada kalian Jadilah anak yang baik. ketahui tujuan hidup kalian itu apa?. Berusahalah untuk megapainya agar kalian berahsil. Kalian harus tahua apa yang kalian lakukan. Jika kalian melakukan hal yang buruk tinggalkan lah bila kalian berada di jalan yang baik lanjutkanlah. Jika kalian percaya dengan hal kalian lakukan. Percayailah hal itu dan lakukan agar kalian bisa sukses. Tapi ingat hal itu harus positif”.
Akhirnya kali melangkahkan kaki kami untuk meninggalkan ruang BK yang bagi ku dan Toni ruang itu sudah tersihir menjadi sebuah tempat penuh inspirasi kami. Pak Badrun sosok menakutkan pun berubah menjadi kasatria ku yang memberikan kata-kata bujaknya. Agar aku dan toni mau berubah menjadi lebih baik. Aku dan Toni pun berpisah di sebuah gerbang besar sekolah kami. Karena arah rumah kami berlawan kami memutuskan untuk berpisah di gerbang ini.
Hari ini begitu cerah secerah hati yang tlah mendapatkan kebebasan sekarang aku lebih mengerti kenapa Tuhan memberikan cobaan ini kepada ku. Ternyata tuhan memperingatkan ku agar aku mau mengubah jalan hidup ku yang bengkok menjadi lurus. Aku pun teringat kepada sosok gadis yang dikirimkan tuhan tuk menghafal Al fatehah. Tak tahu kenapa aku ingin segera pulang dan menemui ibuk. Tapi tak tahu kenapa badan ini bergerak menuju terminal angkot untuk mencari angkot nomor sebelas. Ku tengok satu persatu kedalam angkot ternyata gadis berjilbab itu tidak ada. Terpaksa ki gerakkan badan yang lemas ini memasuki angkot pak Dadang.
“ Pak aku ndak ngernet dulu. Aku pengen pulang cepat”
“ tumben ngak ngernet kenapa Za. Ada masalah apa”
“ tidak ada masalah apa-apa pak. Aku ingin bertemu ibuk dan menghafal surat Alfatehah biayar cepat tahu nama gadis itu”.
“ O. Ya sudah”
“ O. Iya pak mulai besok aku gak ngernet dan ngamen. Karena aku dapat kerja jaga Toserba miliki Guruku”.
Sontak muka pak Dadang pun agak memuram tapi pak dadang mencoba mengiklaskanku. Karena pak Dadang ingin agar aku bisa konsentrasi sekolah dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Meskipun resikonya penumpang pak Dadang akan berkurang.
“ Ya cah bagus, Ndak apa-apa kamu sekolah yang benar ya biyar jadi orang sukses. Kerjanya juga yang benar”
“ Ya beres pak”.
Aku pun lelangkahkan kaki ini mengeluari angkot pak dadang. Akhirnya badan yang letih ini melihat bangunan rumah yang berdiri kokoh meskipun 85% bahan bangun rumah itu terbuat dari kayu.
“Assalamualaikum”.
“ Walaikum salam. Kamu pulang lebih awal Nak. Apa kamu gak enak badab atau ada apa?”
“Eyza baik-baik saja buk”
“ya sudah sana ganti baju, makan, lalau istirahat ibuk masakkan kering tempe dan Bandeng pressto”.
Ku masuki kamar dan kurebahkan badan ini sambil melihat langit-lagit. Aku pun memutar-mutar ingatanku selama satu hari ini. Ternyata satu hari ini aku tlah mendapatkan bayak pertolongan dari Tuhan. Memang sebelumnya Tuhan telah memberikan bayak pertolongan kepadaku tapi aku kurang peka tuk menyadarinya. Tapi setelah mengalami bayak hal seharian ini. Tak tahu kenapa hati dan fikiran ini bisa berfikir lebih jernih untuk menyadari pertolongan yang telah di berikan Tuhan untuk ku. Tidak hanya pertolongan bahkan Nikamat yang tak terhingga. Karena aku bisa hidup di dunia ini dan menjadi anak Ibuk.
Saat adzan Isyak Aku masih menghafal alfatehan dengan serius sipz udah hafal tak terasa badan ini bergerak sendiri untuyk mengambil air wudhu yang bersih. Saat kulit ini bersentuhan dengan air wudhu yang dingin. Samar-samar ku ingat-ingat niat wudhu yang pernah di jari oleh kakek ku waktu aku masih usia 6 tahun haya niat wudhu inilah yang aku ingat. Aku pun merasakan sebuah aliran yang begitu berbeda. Aliran ini membuah hati dan raga ini sejuk menjadi lebih tenang. Segera Ku buka lemari buku ku untuk mecarai buku tuntunan sholat. Akhirnya ku buka lebar-lebar buku itu di atas sajadah panjang ku. aku mecoba sholat seusai sholat ku ambil Al-quran dan kubuka halaman pertamanya Alfatehah dan kubaca dengan seksama tak tersa air mata ini bak air hujan yang mencari tanah untuk diserapi. Kubaca berulang-ulang karena hanya ini yang kubisa.
Aku bagaikan noda kecil yang tak terlihat namun noda ini semakin lama semakin membesar saat mengingat semua hal dan dosa yang telah ku perbuat selama ini. Aku merasa seperti mahluk asing yang mencoba mengetuk pintu-Nya.
SELIMUT DOA
Rasa syukur Bak rembulan dimalam hari
Yang mnyinari hati ini didalam kegelapan
agar terhentak bangun dari kenestapaan yang tak berujung
Saat batin berkata “bersyukurlah”
Tergetak raga ini untuk selalu merasakan kedamain yang tak terhingga
Bersyukur bagikan obat penghilang rasa sakit segala masalahku
Iblis gegelapan yang menyelimuti dunia ini akan cemburu melihatku saat mengucap syukur
Sehingga aku menemukan cahaya terang untuk menjauhinya dan menggalkannya
Selimut doa kepadanya membua jasad dan ruh ini tersa hangat
Selimut doa membuat malikat tersemnyum dan tertunduk bagga melihat jiwa ini
Selibu doa dan syukur membuat keajaiban di dalam jiwa ini
Sang Illahipun telah sungguh-sungguh menyelimuti jiwa ini dengan kasih dan kepercayaannya
Kebahagiyaan tidak akan menghampiri sebelum jiwa ini terselimut doa dan membuat tempat yang longgar untuknya
Wahai jiwa yang bebas dan tenang
Kau telah menemukan perubahanmu yang membuat para iblis iri dan cemburu
Sekarang melangkahlah kepakkan sayap semangat pantang menyerahmu
Tabalah, sabarlah, berusahalah, dan bersyukurlah
Tetaplah istiqomah dan terus berdoa agar selimut doamu selalu menghangatkan jiwamu dengan kasih-Nya
“ Ya Allah tuhanku kenapa aku bisa seperti ini hanya Satu surat ini saja yang bisa aku baca untukmu, Aku benar-benar rindu dengan gadis itu, aku ingin berkenalan dengannya”.
Aku pun tak tahu kalo ibu menegokku dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit. Ibu yang tak pernah melihat anaknya memengang kitab Suci Nabi Muhammad pun meneteskan air matanya karena terharu.
Tepat pukul 22.00 WIB badan ini sudah tak kuasa menopang keletihan hari ini. Aku pun merebahkan badan ku dan menggapai selimut di bawah bantal ku. Dan ku letakkan kedua tanganku di bawah belakang. Setelah itu ku lantukan lagi lagu kebangsaanku Al-Fatehah. Tak terasa mata ini terasa lembab dan pipi ini basah. Ternyata Air sudah tidak dapat ku bendung lagi air mata ini tlah membasahai pipi ini dan kerah kaos ku pun menjadi basah. Ternyata Allah menciptakan setiap manusia itu memiliki tujuan tersendiri. Sebuah tujuan yang unik dan khas sebuah tujuan yang sulit di tebak oleh manusia biasa. Dan pada akhirnya tujuan inilah yang memberikan makna kepada ku.
Seperti bertemunya aku dengan gadis itu yang menghantarkkan ku tuk mau mengenal agama ku lagi. Seperti pertumuanku dengan Pak Badrun yang memiliki tujuan lain. tujuan agar aku tak berprasangka buruk lagi kepada orang lain. Seperti pertemuanku dengan Bu Khusnul sesosok guru yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat. seperti takdirku menjadi anak ibu yang mengajarkanku bayak hal tentang ketegaran menjalani hidup dan sebuah kesetian pada pendampingnya. Seperti Takdirku menjadi cucu kakek yang memiliki harapan untukku agar aku mejadi anak yang sukses. Sebuah tujuan Unik yang di setting secara rapi oleh Sang sutradara kehidupan.
Sebuah kehidupan ku yang mencoba mencari makna kehidupan ku ini dengan cara mencari sebuah pilihan yang tepat dalam hidup ini. Makna yang ku cari dari sebuah visi, Harapan, dan alasan kenapa Allah masih memberikan waktunya untukku. Aku pun tersdar tentang hal apa yang harus aku lakukan dan untuk apa aku dilahirkan keduania ini. Serasa raga ini mendapatkan suntikan semnagat yang membara. Tujuan hidupku untuk mengenal Diri-Nya lebih dalam. Melalui perantara-perantara tangan kasih-Nya. Mata yang tak sanggup menopang keletihan ini pun menutup secara perlana. Dan terbuai dalam sebuah negri dongeng yang tertata rapi sesuai dengan harapan hati.
Masih ada lanjuttanya Luh…silahkan kasih masukan dan saran, krn mash banyak kekurangan