Posted in Kumpulan Cerita Novel dan ISlam

@ Keutamaan Berbaik Sangka @


Biismillahir rohmaanir rohiim

Salah satu cara memelihara jalinan ukhuwah Islamiyah adalah dengan berbaik sangka terhadap sesama Muslim

Suatu hari Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam mengutus Umar RA untuk menarik zakat dari para sahabat. Akan tetapi, Ibnu Jamil, Khalid bin Walid dan Abbas yang juga paman Nabi Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam tidak menyerahkan zakatnya. Umar pun kemudian melaporkan sikap ketiga sahabat itu kepada Rasulullah.

Mendengar laporan itu, Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ”Tiada sesuatu yang membuat Ibnu Jamil enggan untuk menyerahkan zakat kecuali dirinya fakir, kemudian Allah menjadikannya kaya. Adapun Khalid, sesungguhnya kalian telah berbuat zalim terhadapnya (karena) ia menginfakkan baju besi dan peralatan perangnya di jalan Allah. Adapun Abbas, aku telah mengambil zakatnya dua tahun lalu.”

Setelah itu, Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam pun bersabda, ”Wahai Umar, apakah kamu tidak tahu bahwa paman seseorang itu sama seperti ayahnya?” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari kisah itu, Rasulullah Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk berbaik sangka kepada sesama. Nabi Sallallahu’alaihi Wasallam senantiasa mengingatkan umatnya untuk menjauhi prasangka buruk.

Allah Subhana wa ta’ala juga melarang hamba-Nya yang beriman untuk berprasangka. ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa… ‘ (QS al-Hujurat:12).

Syekh Salim bin Ied al-Hilali dalam Syarah Riyadhus Shalihin, mengungkapkan, seorang hamba Allah yang beriman hendaknya menjauhkan diri dari menuduh, menghianati keluarga, kerabat dan orang-orang bukan pada tempatnya.

Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam menegaskan dalam hadisnya, ”Jauhilah olehmu prasangka. Sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta.” (Muttafaq ‘alaih).

Lalu apa sebenarnya prasangka itu? Dalam Alquran, prasangka disebut dengan az-Zhann. Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitab Mausu’ah min Akhlaqir-Rasul, menjelaskan secara detail tentang jenis-jenis prasangka.

Menurut Syekh al-Mishri, ada empat macam prasangka yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, prasangka yang diharamkan. Prasangka yang termasuk kategori haram itu adalah berprasangka buruk terhadap Allah serta berprasangka buruk terhadap kaum Muslimin yang adil.

Kedua, prasangka yang diperbolehkan. ”Prasangka yang diperbolehkan adalah yang terlitas dalam hati seorang Muslim kepada saudaranya karena adanya hal yang mencurigakan,” papar Syekh al-Mishri. Ketiga, prasangka yang dianjurkan. Menurut dia, prasangka jenis ini adalah prasangka yang baik terhadap sesama Muslim.

Keempat prasangka yang diperintahkan. Menurut Syekh al-Mishri, prasangka yang diperintahkan adalah prasangka dalam hal ibadah dan hukum yang belum ada nashnya. ”Dalam hal ibadah, kita cukup berdasarkan prasangka yang kuat, seperti menerima kesaksian dari saksi yang adil, mencari arah kiblat, menaksir kerusakan-kerusakan, dan denda pidana yang tidak ada nash yang menentukan jumlah atau kadarnya,” ungkapnya.

Sufyan ats-Tsauri menjelaskan ada dua jenis prasangka, yakni berdosa dan tidak berdosa. Prasangka yang berdosa, tutur ats-Tasuri, jika seseorang berprasangka dan mengucapkannya kepada orang lain. Sedangkan, yang tak berdosa adalah prasangka yang tidak diucapkan atau disebarkan kepada orang lain.

Rasulullah Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam senantiasa mendidik dan mengarahkan para sahabat agar berbaik sangka ( ber-husnuzh-zhann ) terhadap Allah Subhana wa ta’ala dan manusia di sekitar mereka, agar hati mereka tetap bersatu. Tiga hari menjelang wafat, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, ”Janganlah seseorang meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah Subhana wa ta’ala.”
(HR Muslim, hadis sahih).

Berbaik sangka kepada Allah Subhana wa ta’ala merupakan kenikmatan yang paling agung. Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Rasulullah Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallamtentang kemuliaan berprasangka baik kepada sang Khalik. ”Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman, Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku.”

”Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ahmad bin Abbas an-Numri berkata, ”Sungguh aku berharap kepada Allah hingga seolah aku melihat betapa indahnya balasan Allah atas kebaikan prasangkaku.” Syekh al-Mishri, mengungkapkan, kebersihan hati seorang Mukmin adalah salah satu hal yang penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hati yang bersih akan memudahkan umat untuk menjalin ukhuwah Islamiyah.

Salah satu cara memelihara jalinan ukhuwah Islamiyah adalah dengan berbaik sangka kepada saudara” sesama Muslim.Wallahi Taufiq …

Author:

slow but sure

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s