Posted in Kumpulan Cerita Novel dan ISlam

Asbabun Nuzul


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Ilmu Asbabun Nuzul termasuk diantara ilmu-ilmu yang penting. Ilmu ini menunjukan menyingkapkan hunbungan antra adialektika antara teks dengan realitas yang ada. Terkadang banyak ayat yang turun, sedang sebabnya hanya satu. dalam hal ini tidak ada permasalahan yang cukup penting, karena itu banyak ayat yang turun didalam berbagai surah berkenaan dengan satu peristiwa.
Seperti Al-Qur’an yang diturunkan untuk memberikan jalan petunjuk dan untuk memperkuat iman umat muslim. Asababun nuul disini juga memiliki petran penting untuk semakin menguatkan keyakinan umat muslim tentang ayat Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah untuk umatnya. Sehingga Ilmu Asbabun Nuzul itu sangat diperlukan untuk mengetahui keontetikan suatu ayat yang memiliki Asbabun nuzul. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecacatan dalam penerjemahan suatu ayat Al-quran.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Asbabun Nuzul itu?
2. Bagaimana cara mengetahui Asbabun nuzul?
3. Faedah-feadah apa sajakah yang didapat dari mempelajari Asababun Nuzul?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Asbabun Nuzul
Asbabun Nuzul dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji atau membahas tentang sebab-sebab diturunkanya Al-Qur’an secara lebih rinci dan jelas. Asababun nuzul berfungsi mencari penerangan mengenai suatu status hukum dan sebab diturunkannya suatu ayat atau hadis, pada masa hal atau kejadian itu terjadi. Hal ini mencakup peristiwa maupun pertanyaan. Asbabun muzul membahas kasus-kasus yang menjadi sebab turunya beberapa ayat Al-qur’an, macam-macamnya, redaksi-redaksinya, tarjih riwayat-riwayatnya, dan faedah dalam mempelajarinya. Seadangkan definisi asbabun nuzul yang lainnya adalah sebagai berikut:
1. Asbabun nuzul adalah riwayatn atau hadis yang menjelaskan berbagai sebab diturunkanya ayat.
2. Apabila terjadi suatu kasus atau kejadian kemudian turun satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan kasus, itulah yang disebut asbabun nuzul.
3. Kadang-kadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi SAW dengan maksud meminta ketegasan tentang hukum syara’ atau mohon kejelasan secara terperinci tentang urusan agama, itu juga disebut asbabun nuzul.
4. Menurut Az-Zarqani
Didefinisikan bahwa Asbabun Nuzul merupakan sesuatu yang khusus untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi yang berhubungan dengan turunnya ayat Al Quran yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa terjadi.
5. Menurut Ash-Shabuni
Didefinisikan bahwa Asbabun Nuzul sebagai peristiwa yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.
6. Menurut Shubhi Shahih
Dapat didefiniskan bahwa Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al Quran yang menyiratkan peristiwa yang terjadi sebagai respon cepatnya. Atau sebagai penjelas hukum-hukum di saat peristiwa itu terjadi.
7. Menurut Mana’ Al-Qthathan
Jadi Asbabun Nuzul merupakan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya Al Quran yang berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang di ajukan kepada nabi.
Jika kita lihat dari beberapa pengertian di atas maka terdapat perbedaan pendapat di antara satu dengan yang lainnya, walaupun redaksi yang digunakan untuk mendefinisikan Asbabun Nuzul Al Quran berbeda, semuanya menyimpulkan hal yang sama yakni Asbabun Nuzul adalah suatu kejadian atau peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat Al Quran. Asbabun Nuzul juga dapat dikatakan sebagai rentetan bahan-bahan sejarah yang dapat dipakai untuk memberikan keterangan-keterangan terhadap ayat-ayat Al Quran.
Sehingga kita dapat melihat posisi asbabun nuzul bagi para sahabat dan para ulama sangatlah penting, karena asbabun nuzul disini berperan sebagai salah satu komponen untuk menfsirkan Al-Qur’an. Sedangkan yang mejadi pedoman dasar para ulama dalam mengetahui asbabun nuzul adalah riwayat sahih yang berasal dari Rasullah SAW atau dari sahabat. Namun untuk pendapat dari sahabat itu harus jelas sehingga hal itu bukan hanya pendapat saja (ra’y) melainkan hal itu memiliki hukum yang marfu’ (disandarkan pada Rasulullah).
Sehingga banyak sekali ulama salaf yang tidak berani menafsirkan asbabun nuzul itu secara sembarangan atau tanpa ilmu yang jelas karena sebuah asababun nuzul itu harus memiliki urutan perawi yang jelas dan muatan yang benar (tidak mengandung sifat cacat dalam isinya). Sehingga muncul lah pihak atau para ahli yang mengkhususkan dirinya untuk membahasa bidang ini, yang terkenal diataranya ialah sebagai berikut:
1. Ali bin Madini, Guru Bukhari.
2. Abul Hasan Ali al-Wahidi (427 H) dalam kitabnya Asbabun Nuzul.
3. Burhanuddin al-Jabari (732 H) yang meringkah kitab al-Wahidi dengan menghilangkat isnad-isnadnya tanpa menambahkan sesuatu.
4. Sayaikhul Islam Ibn Hajar al-Atsqolani (852 H) yang mengarang suatu kitab mengenai Asbabun Nuzul.
5. Jalaluddin As-Suyul (911 H) yang menyatakan tentang dirinya: “Dalam hal ini, aku telah mengarang satu kitab lengkap, singkat, dan sangat baik serta dalam bidang ilmu ini belum ada satu kitab pun menyamainya. Kitab ini aku namakan Lubabul Manqul fi Asbabin Nuzul.

B. Sebab diturunkanya Asbabun Nuzul
Mengetahui sebab-sebab diturunkannya sebuah ayat sangatlah penting. Karena bagi mujtahid hal ini termasuk syarat dalam menafsirkan Al-Quran. Sedangkan menurut para ulama, sebuah ayat diturunkan karena dau hal.
Pertatama, merespon sebuah peristiwa,maka akan turunlah ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa tersebuat. misalnya turunlah surah al-Lahab sebagai bantahan terhadap Abu Lahab yang mengejek Rasulullah saw dengan ungkapan keji.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar . Yang di lehernya ada tali dari sabut”
Kedua, menjawab suatu permasalahan yang belum atau sulit diputuskan. Bila Rasullah saw ditanya tentang sesuatu hal maka turunlah ayat Al-Qur’anya menerangkan hukumnya. Contoh hal ini seperti ketika khaulah binti Sa’labah dikenakan Zihar oleh suaminya Aus bin Sahit lalu ia dating kepada Rasulullah saw mengadukan hal itu.
Aisyah berkata: “ Maha suci Allah yang maha medengar meliputi segalanya aku medengar ucapan Khaulah binti Sa’labah itu, sekalipun tidak seluruhnya, ia mengadukan suaminya keapda Rasulullah saw, katanya: Rasulullah saw suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengadu karenanya, sekarang setelah aku menjadi tua, dan tidak beranak lagi ia mejatuhkan ziharnya lagi kepadaku! Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada Mu.
Aisyah berkata: “ Tiba-tiba jibril turun membawa ayat-ayat ini: Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya ( yakni aus bin samit)”.
Tidak semua ayat qur’an diturunkan karena adanya timbul suatu peristiwa dan kejadian yang mendahuluinya, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada diantaranya ayat Al-Qur’an diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab mengenai akidah iman, kewajiban Islam dan syariaat Allah dalam kehidupan pribadi social. Contoh lainya adalah misalnya ayat yang diturunkan sehubungan dengan masalah Khamar.
“Sesungguhnya khmar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan ”
Adapun sebab kenapa asbabun nuzul diturunkan secara bertahap karena “Dan orang-orang kafir itu berkata: Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya secara serempak. Demikian itu Kami lakukan untuk memantapkan hatimu.”
Dapat kita lihat dari kalimat “pemantapan hati” dalam ayat ini dapat mengindikasikan sebuah kondisi “penerimaan pertama” ikut dipertimbangkan sebab proses komunikasi wahyu amat sulit baginya, karena pada saat itu budayanya berupa budaya lisan yang dimana posisi umat pada masa itru cenderung menghafal sehingga akan sulit jika pada masa itu ayat diturunkan secara serempak atau sekaligus. Hal ini dikarena background umat pada masa itu cenderung kental dengan kebudayaan lisan. Sehingga dalam proses penerimaan disini tidak hanya menyangkut factor pribadi saja namun juga mempertimbangkan situasi umum, yang dimana penerima pertama memiliki kedudukan sejajar dengan masyarakat yang menjadi sasaran teks. Sehingga dalam proses pemahaman dan penghafalan teks tersebut akan dapat di fahami dan diinterprestasikan dengan mudah dan mengena.
“ Sebab, apabila wahyu muncul dalam setiap peristiwa, ini akan lebih memantapkan hati dan lebih memberikan perhatian terhadap rasul. Dan, ini mengharuskan malaikat sering turun kepadanya dan memperbaruhi pertemuan denganya dengan membawa misi dari Yang Mahamulia. Dari sini, muncullah kegembiraan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata”
Mereka juga menyadari bahwa sebuah tradisi lisan yang berkembang dalam kebudayaan mewajibkan Al-Qur’an diturunkan secara bertahap, meskipun dibatasi dalam bingkai kepribadian Rasullah saja. Sehingga dapat kita pahami bahwa penurunan Al-quran itu secera bertahap disini memunculkan sebuah pengidentifikasian bahwa ada hubungan antara teks dengan realitas yang ada.
Asbabun Nuzul dengan hadist mursal, yaitu hadist yang gugur dari sanadnya seoarng sahabat dan mata rantai periwayatnya hanya sampai kepada seorang tabi’in, maka riwayat ini tidak diterima kecuali sanadnya shahih dan mengambil tafsirnya dari para sahabat, seperti mujahid, hikmah dan said bin jubair. para ulama menetapkan bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui asbabun nuzul kecuali melalui riwayat yang shahih. Mereka tidak dapat menerima hasil nalar dan ijtihad dalam masalah ini, namun tampaknya pandangan mereka tidak selamanya berlaku secara mutlak, tidak jarang pandangan terhadap riwayat-riwayat asbabun nuzul bagi ayat tertentu berbeda-beda yang kadang-kadang memerlukan Tarjih ( mengambil riwayat yang lebih kuat ) untuk melakukan tarjih diperlukan analisis dan ijtihad.
C. Cara Menentukan Asbabun Nuzul
Asbabun nuzul disini memiliki peran yang sangat penting dalam penafsiran atau pengukapan makna teks dalam Al-Qur’an, namun yang menjadi persoalannya adalah dalam meyakinkan sebab-sebab sejumblah teks Al-Qur’an itu diturunkan sangat tidak mudah. Kerna dalam menentukan sebuah asbabun nuzul tidak hanya bertolak pada pandangan akan (rasio), melaikan berdasarkan riwayat yang sahih dan didengarkan langsung dari orang-orang yang mengetahui turunya Al-Qur’an atau dari orang-orang yang benar-benar memahami sabaun nuzul, yang dimana para sumber ini benar-benar meneliti dengan cermat baik dari kalangan sahabat, tabi’in atau yang lainnya dengan cara memperoleh ilmunya dari ulama-ulama yang benar-benar terpercaya.
a. Cara mengetahui Asbabun Nuzul berupa riwayat yang sahih adalah:
1. Apabila perawi sendii menyatakan lafal sebab secara tegas. Dalam hal ini adalah nash yang nyata, seperti kata-kata perawi sebab turunya ayat begini…”
2. Bila perawi menyatakan riwayatnya dengan memasukan huruf “Fa Ta’qibiyah” pada kata “Nazala” seperti kata-kata perawi.
b. Sedangkan kriteria cara mengetahi Asababun Nuzul menurut para ulama melalui riwayat adalah:
1. Apabila ada dua periwayat yang berbeda, dan salah satunya lebih sahih dari lainnya maka yang dipegang adalah riwayat yang lebih sahih.
2. Apabila sanad dari dua riwayat tersebut shahihnya maka salah satunya diutamakan apabila perawinya menyaksikan peristiwa atau karena ada pertimbangan-pertimbangan semacamnya. Contoh yang diketengahkan para ulama untuk tipe ini adalah perbedaan riwayat Ibnu Mas’ud dengan riwayat Ibnu Abbas mengenai sebab turunya firman Allah:
“Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, roh itu termasuk masalah Tuhanku, ilmu yang diberikan kepada kalian hanyalah sedikit.” Jadi dapat disimpulkan yang shahih bukanlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud. Meskipun ia menurunkan riwayatnya, menyaksikan turunnya ayat. Hal inilah yang menyebabkan munculnya asumsi adanya ayat turun dua kali, sekali di Makah dan sekalih di Madinah.
3. Apabila dua riwayat tersebut sulit di tarjih maka pemecahanya dalah diasumsikan ayat turun berulang-ulang setelah ada dua sebab atau sebab-sebab yang disebutkan. Asumsi ini menyebabkan kita harus membicarakan masalah tentang satu ayat turun berulang-ulang karena sebab yang banyak, dan juga mengharuskan kita membicarakan sisi lain, yaitu beberapa ayat turun dengan satu sebab.
Sedangkan dapat kita ketahui bahwa macam Asbabun Nuzul itu ada dua kelompok. Kelompok yang pertama Ta’addud al-Asbab wa al-Nazil Wahid , yang kedua Ta’uddud al-Nazil wa al-Sabab Wahid . Suatu ayat atau sekelompok ayat yang turun disebut Ta’addud Al-Nazil bila inti persoalan yang terkandung dalam ayat yang turun sehubungan dengan sebab tertentu lebih dari satu persoalan. Jika ditemukan dua riwayat atau lebih tentang sebab turun ayat dan masing-masing menyebutkan suatu sebab yang jelas dan berbeda dari yang disebutkan lawannya, maka kedua riwayat ini diteliti dan dianalisis.
Kemungkinan munculnya permasalahan empat bentuk. Pertama salah satu dari keduanya sahih dan lainnya tidak. Kedua, keduanya sahih, akan tetapi salah satunya mempunyai penguat (murajjih) dan lainnya tidak. Ketiga, keduanya sahih dan keduanya sama-sama tidak mempunyai penguat (murajjih). Akan tetapi, keduanya dapat diambil sekaligus. Bentuk keempat, keduanya sahih, tidak mempunyai penguat (murajjih), dan tidak mungkin mengambil keduanya sekaligus.
Kita sepakat bahwa Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur, artinya tidak diturunkan sekaligus dalam bentuk kitab yang utuh melainkan diturunkan sebagian-sebagian. Untuk mengetahui kapan ayat-ayat Al Quran diturunkan kita harus merujuk kepada Asbabun Nuzulnya. Tapi sayangnya tidak semua ayat Al Quran terdapat asbabun nuzul yang shahih menjelaskan sebab turunnya. Berdasarkan hal ini maka ayat-ayat dalam al Quran dibagi menjadi
1. Ayat Al Quran yang memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya. Maksudnya ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa atau tujuan tertentu. Hal ini diketahui dengan hadis asbabun nuzul yang shahih.
2. Ayat Al Quran yang tidak memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya karena memang tidak ada asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan sebab turunnya
Lalu apa kaitannya dengan pembahasan ini?. Ternyata terdapat asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan turunnya penggalan terakhir surah Al Ahzab 33 yang lebih dikenal dengan sebutan Ayat Tathhir(ayat penyucian) yaitu penggalan
Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.
Yang arti atau terjemahannya adalah
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.
Ternyata banyak Hadis-hadis shahih dan jelas yang menyatakan bahwa ayat Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) turun sendiri terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya. Artinya ayat tersebut tidak terkait dengan ayat sebelum dan sesudahnya yang ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Ayat tersebut justru ditujukan untuk Pribadi-pribadi yang lain dan bukan istri-istri Nabi SAW. Mungkin ada yang akan berpendapat bahwa yang seperti ini sama halnya dengan Mutilasi ayat, hal ini jelas tidak benar karena ayat yang dimaksud memang ditujukan untuk pribadi tertentu sesuai dengan asbabun nuzulnya.
Sebenarnya Ada dua cara untuk mengetahui siapa yang dituju oleh suatu Ayat dalam Al Quran.
• Cara yang pertama adalah dengan melihat ayat sebelum dan ayat sesudah dari ayat yang dimaksud, memahaminya secara keseluruhan dan baru kemudian menarik kesimpulan.
• Cara kedua adalah dengan melihat Asbabun Nuzul dari Ayat tersebut yang terdapat dalam hadis yang shahih tentang turunnya ayat tersebut.
Cara pertama yaitu dengan melihat urutan ayat, jelas memiliki syarat bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan secara bersamaan atau diturunkan berkaitan dengan individu-individu yang sama. Dan untuk mengetahui hal ini jelas dengan melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut. Jadi sebenarnya baik cara pertama atau kedua sama-sama memerlukan asbabun nuzul ayat tersebut. Seandainya terdapat dalil yang shahih dari asbabun nuzul suatu ayat tentang siapa yang dituju dalam ayat tersebut maka hal ini jelas lebih diutamakan ketimbang melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya. Alasannya adalah ayat-ayat Al Quran tidaklah diturunkan secara bersamaan melainkan diturunkan berangsur-angsur. Oleh karenanya dalil shahih dari Asbabun Nuzul jelas lebih tepat menunjukkan siapa yang dituju dalam ayat tersebut.
Berbeda halnya apabila tidak ditemukan dalil shahih yang menjelaskan Asbabun Nuzul ayat tersebut. Maka dalam hal ini jelas lebih tepat dengan melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya untuk menangkap maksud kepada siapa ayat tersebut ditujukan.Jadi ini bukan mutilasi ayat tapi memang ayatnya turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya dan ditujukan untuk pribadi-pribadi tertentu

D. Beberapa faedah mengetahui Asbabun Nuzul
Berikut ini adalah manfaat mengetahui asbabun nuzul Al-Qur’an
1. Menjelaskan hikmah ata syariat Islam dan mengetahui tujuan diberlakukannya syari’at bagi umat islam.
2. Mengetahui wilayah cakupan suatu hukum kendati ayat tersebut diturunkan dalam bentuk yang umum. Hal ini untuk menjawab persoalan-persoalan khilafiah (perbedaan pendapat) yang tidak mungkin tidak terjadi ditegah kehidupan masyarakat.
3. Jika structur lafaz pada ayat yang diturunkan bersifat umum tapi memiliki pengkhususan hukum, maka dengan mengetahui asbabun nuzul-nya kita akan tahu bahwa ayat seperti itu tidak boleh dijadikan dasar untuk ijtihad.
4. Memudahkan pemahamam terhadap makana yang terkandung dalam Al-Qur’an.
5. Memberikan pengetahuan konteks turunya ayat.
Adapun faedah dari ilmu Asbabun Nuzul dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hukum suatu ayat.
2. Menentukan hokum dengan sebab menurut orang yang berpendapat bahwa suatu ibarat dinyatakan berdasarkan khususnya sebab.
3. Menghidarkan prasangka bahwaarti hasr dalam suatu ayat yang zahirnya hasr.
4. Mengetahui orang atau kelompok yang menjadi kasus turunya ayat serta memberikan ketegasan bila terdapat keragu-raguan.
5. Dan lain-lain yang ada hubunganya dengan faedah ilmu Asbabun Nuzul.

BAB III
KESIMPULAN

Dari urain dan penjelasan diatas dapat kita tarik sesimpulan sebagai berikut:
a. Asbabun Nuzul memiliki pengetian, Asbabun Nuzul adalah suatu kejadian atau peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat Al Quran. Asbabun Nuzul juga dapat dikatakan sebagai rentetan bahan-bahan sejarah yang dapat dipakai untuk memberikan keterangan-keterangan terhadap ayat-ayat Al Quran.
b. Yang mendasari diturunkannya Asbabun Nuzul ada dual yaitu Pertatama, merespon sebuah peristiwa,maka akan turunlah ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa tersebuat. Kedua, menjawab suatu permasalahan yang belum atau sulit diputuskan. Bila Rasullah saw ditanya tentang sesuatu hal maka turunlah ayat Al-Qur’anya menerangkan hukumnya.
c. Adapun cara untuk mengetahui Asbabun Nuzul adalah sebagai berikut:
1. Cara mengetahui Asbabun Nuzul berupa riwayat yang sahih adalah:
a. Apabila perawi sendii menyatakan lafal sebab secara tegas. Dalam hal ini adalah nash yang nyata, seperti kata-kata perawi sebab turunya ayat begini…”
b. Bila perawi menyatakan riwayatnya dengan memasukan huruf “Fa Ta’qibiyah” pada kata “Nazala” seperti kata-kata perawi.
2. Sedangkan kriteria cara mengetahi Asababun Nuzul menurut para ulama melalui riwayat adalah:
a. Apabila ada dua periwayat yang berbeda, dan salah satunya lebih sahih dari lainnya maka yang dipegang adalah riwayat yang lebih sahih.
b. Apabila sanad dari dua riwayat tersebut shahihnya maka salah satunya diutamakan apabila perawinya menyaksikan peristiwa atau karena ada pertimbangan-pertimbangan semacamnya. Contoh yang diketengahkan para ulama untuk tipe ini adalah perbedaan riwayat Ibnu Mas’ud dengan riwayat Ibnu Abbas mengenai sebab turunya firman Allah:
“Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, roh itu termasuk masalah Tuhanku, ilmu yang diberikan kepada kalian hanyalah sedikit.” Jadi dapat disimpulkan yang shahih bukanlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud. Meskipun ia menurunkan riwayatnya, menyaksikan turunnya ayat. Hal inilah yang menyebabkan munculnya asumsi adanya ayat turun dua kali, sekali di Makah dan sekalih di Madinah.
c. Apabila dua riwayat tersebut sulit di tarjih maka pemecahanya dalah diasumsikan ayat turun berulang-ulang setelah ada dua sebab atau sebab-sebab yang disebutkan. Asumsi ini menyebabkan kita harus membicarakan masalah tentang satu ayat turun berulang-ulang karena sebab yang banyak, dan juga mengharuskan kita membicarakan sisi lain, yaitu beberapa ayat turun dengan satu sebab.
d. Ada pun macam dari asbabun nuzul itu ada dua macam yaitu:
1. Ta’addud al-Asbab wa al-Nazil Wahid
2. Ta’uddud al-Nazil wa al-Sabab Wahid
e. Berikut ini adalah manfaat mengetahui asbabun nuzul Al-Qur’an
1. Menjelaskan hikmah ata syariat Islam dan mengetahui tujuan diberlakukannya syari’at bagi umat islam.
2. Mengetahui wilayah cakupan suatu hukum kendati ayat tersebut diturunkan dalam bentuk yang umum. Hal ini untuk menjawab persoalan-persoalan khilafiah (perbedaan pendapat) yang tidak mungkin tidak terjadi ditegah kehidupan masyarakat.
3. Jika structur lafaz pada ayat yang diturunkan bersifat umum tapi memiliki pengkhususan hukum, maka dengan mengetahui asbabun nuzul-nya kita akan tahu bahwa ayat seperti itu tidak boleh dijadikan dasar untuk ijtihad.
4. Memudahkan pemahamam terhadap makana yang terkandung dalam Al-Qur’an.
5. Memberikan pengetahuan konteks turunya ayat.
Adapun faedah dari ilmu Asbabun Nuzul dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hukum suatu ayat.
2. Menentukan hokum dengan sebab menurut orang yang berpendapat bahwa suatu ibarat dinyatakan berdasarkan khususnya sebab.
3. Menghidarkan prasangka bahwaarti hasr dalam suatu ayat yang zahirnya hasr.
4. Mengetahui orang atau kelompok yang menjadi kasus turunya ayat serta memberikan ketegasan bila terdapat keragu-raguan.
5. Dan lain-lain yang ada hubunganya dengan faedah ilmu Asbabun Nuzul. Untuk mengetahui contoh-contoh faedah secara lengkap dan jelas dapat dilihat dibuku “Studi Ilmu AL-Aqur’an, karya Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shaabuuniy”, “ Mahabits Fi Ulumil Qur’an, karya Syeikh Manna’ul Qathan”, atau dari sumber-sumber buku yang lainnya.
Dari kesimpulan diatas dapat kita ketahui bahwa Asbabun Nuzul merupakan dalah satu elemen terpenting dalam menefsirkan ayat-ayat.

BAB IV
DAFRTAR PUSTAKA

1. Amrullah, Fahmi. Ilmu AL-Qur’an untuk Pemula. Jakarta: CV Aryha Rivera.
2. Ali Ash-Shaabuuniy Mohammad. 1991. Studi Ilmu Al-Quran. Damaskus: Maktabah Al-Aghazali.
3. Aly Ash Shabuny, Mohammad. 1984. Pengantar Study Al-Qur’an (AT-TIBYAN). Beirut-Libanon:Darul Irsyad
4. Hamid Abu Zaid, Nasr. 1993. Tekstualitas Al-Quran. Yogyakarta: Lkis
5. Syeikh Manna’ul Qathan. 2008. Mahabits Fi Ulumil Qur’an. Surakarta: Pesantren mahasiswa Arroyah Surakarta.
6. http://www.al-shia.org/html/id/page.php?id=1029&page=2 diakses pada tanggal 25 September pukul 20.00 wib
7. http://www.sarjanaku.com/2009/12/makalah-asbabun-nuzul.html diakses pada tanggal 25 September pukul 20.00 wib
8. http://education.poztmo.com/2011/02/definisi-asbabun-nuzul-al-quran.html diakses pada tanggal 25 September pukul 20.00 wib
9. http://id.wikipedia.org/wiki/Asbabun_Nuzul diakses pada tanggal 25 September pukul 20.00 wib
10. http://almanaar.wordpress.com/2007/12/10/manfaat-mengetahui-asbabun-nuzul diakses pada tanggal 25 September pukul 20.00 wib

Author:

slow but sure

3 thoughts on “Asbabun Nuzul

  1. Thank you for sharing. Not to many people in your position are so gracious. Your article was very poignant and understandable. It helped me to understand very clearly. Thank you for your help.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s