Posted in Kumpulan Cerita Novel dan ISlam

Aku Berani Bermimpi


Udara pagi menembus sum-sum tulang ini, gemricik air wudhu membentuk melodi keindahan Sang Illahi, bagaikan salju yang mencair menyejukan kulit ini. Sambil menegadahkan kedua tangan ini kumulai panjatkan syukur yang tiada terkira atas biasan cinta dan kasih-Nya. Tanpa izinnya mungkin aku tidak dapat duduk dibalkon rumah mungil ini sambil melihat matahari terbit yang begitu malu-malu bersembunyi dibalik celah dedauan yang rindang. Bagaikan dalam mimpi, bisa duduk di balkon ini sambil menatap bunga tulip yang bermekaran memancarkan warnanya yang sempurna yang mengisyaratkan kebesaran Sang Pencipta-Nya. Trimaksih atas semua cinta dan kasih-Mu sehingga aku bisa seperti ini menjadi orang yang sukses dan dapat mengapai semua impianku. Terbayang kenangan masa laluku, sebelum aku mendapatkan kiriman pesan cinta-Mu yang mengubah mimpi dan jalan hidup ku.

Pagiku kulewati dengan rasa bahagia karena Ujian Semester telah berakhir. Daun-daun yang bergesekan dipigir trotoar terasa mengelitik telinga karena tersapu oleh angin lembut yang mengeluarkan melodi kebahagiaan seiring selesainya ujian semester. Tepat pukul 10.30 WIB, aku sampai di kampus “Pie dosenya sudah masuk kita diruang B1kan?”. “ Iya, kita di ruang B1 tapi kelasnya masih dipakai”. Akhirnya aku dan Palupi melangkahkan kaki ini untuk menyambut kelas praktikum yang aku tunggu-tunggu karena setelah mengerjakan tugas ini, aku akan libur panjang. Dengan penuh semangat kulihat pintu kelas yang sudah terbuka dan ternyata Pak Hamam sudah di dalam kelas. Dengan rasa semangat yang tak terbendung lagi, ku buka pintu itu lebar-lebar dan masuk. “ Maaf Pak, saya kira kelas sudah selesai dan Bapak menunggu kelas kami.” Rasa malu bercampur geli pun tak terelakkan, ternyata kelas yang diampu Pak Hamam adalah kelas untuk mahasiswa semester satu yang belum usai. Warna wajahku langsung memerah saat semua mata adik kelasku tertuju padaku.

Yups, saatnya masuk, aku pun cengar-cengir mengingat kejadian tadi. “Bapak akan memberikan tugas resume buku untuk kalian, tapi tugas ini berbeda dari kelas yang lainya. Kalian harus meresum buku yang sudah Bapak pilihkan yang pertama buku non akademik yaitu Negeri 5 Menara atau Sang Pemimpi kemudian untuk buku akademik, Bapak pilihkan buku Quantum Lerning atau Quantum Teaching. Syarat yang lainya adalah untuk sinopsi mengunakan kata maksimal 500 kata, untuk personal statementnya maksimal 125 kata”. Sejenak, raut wajah anak-anak sekelas mengerut karena bagi kami ini adalah hal yang baru namun ada satu syarat lagi yang membuat wajah kami semakin tertekuk kaku. “ Kalian harus mengunjungi toko buku diluar Kota Salatiga. Pilihan kotanya adalah Solo, Semarang, dan Yogyakarta. Harus ke toko buku dan mengambil gambar di sana. Mungkin kalian mersa ini hal yang berbeda karena tidak sesuai dengan judul praktikum, namun Bapak melakukan hal ini untuk membangkitkan semangat kalian dalam mebaca buku. Apalagi kisah Negri 5 Menara novel ini sangat bagus. Terserah kalian pilih judul buku yang mana?. Pilih 2 judul buku yang ingin kalin resum dan selamat mengerjakan”. Dan tak lupa satu pesan lagi dari Bapak Hamam “ Hati-hati, jika mengendarai kendaraan karena cuaca sekarang tidak bersahabat, apa lagi sekarang musin angin yang cukup kencang kalau bisa kalian naik bus saja”. Akhirnya kelas pun usai.

“Teman-teman kita mau ke toko buku mana ni?”. “ Feb bagai mana kalau kita ke solo, kita beli bukunya di Solo Square?’’ saran Faiz kepadaku. “ Sepertinya bagus, Solo kan dekat tapi kalau besok aku belum punya uang bagaimana kalo hari kamis?”. “ ok hari kamis ya”. Kulihat jam diding yang menempel di dinding kamarku menunjukan pukul 00.30 WIB. Aku masih berfikir keras bagaimana caranya agar punya uang untuk beli buku. Mau minta orang tua, tidak mungkin karena aku sudah tau, kebutuhan keluargaku bulan ini sangat banyak. Gajian mengajar les pun masih minggu depan. Aku begitu bingung memutar otak ini, mencari jalan agar bisa ke Solo dan membeli buku. Dari pada bingung, kuambil air wudhu dan sholat tahajud untuk melepas kegalauan hati ini. Air wudhu yang sejuk bak air terjun yang menghujam hati dan wajah ini menekan seluruh kerisauan hati agar luntur jatuh bersama air wudhu yang membasuh raga ini.

Selesai sholat terjadilah percakapan hati “ Ya Allah bagaimana ini, aku belum punya uang untuk ke Solo, ya Allah, apakah aku bisa ke Solo, batinku berkata” Ya, pasti bisa.” Kututuplah doaku dengan satu permintaan “ Ya Allah yang Maha Memberi, pasti kau telah menyiapkan semua keperluanku tanpa sedikit pun kekurangan, aku yakin kau sudah menyiapkannya”. Ku lipatlah sajadah panjang penegak hatiku agar selalu menghadap kiblat-Nya. Pukul 10.30 WIB tepat, aku sampai di kampus. Semua teman-teman satu kelasku berkumpul di bawah mading besar yang berjejer gagah melindungi kami dari sengatan sinar mata hari.

Kulihat sosok Bapak tua penjual koran yang keadaan fisik dan usianya cukup membuat mata setiap orang yang melihatnya iba. Dalam keadaan seperti itu, bapak tua tersebut masih saja mencari uang berkeliling dari tempat ke tempat lain untuk menawarkan koran. Tak terasa hati yang terketuk melihat bapak itu mengerakkan mulutku untuk memanggil Bapak itu. “ Pak beli koranya, koran yang 3000 ribuan” sontak bapak tua itu langsung datang menghampiriku dan memberikan banyak pilihan koran. “ Koran Suara Merdeka, koran Sindo, dan koran Wawasan atau koran apa mbak?”. “ “Koran apa saja pak?” jawabku. Aku melihat isi uang didalam tasku uangku tinggal Rp 10.000,- saja. Melihat bapak tadi, hatiku tergerak untuk mengulurkan satu lembar uang berwarna pink itu kepada bapak tua penjual koran . Rasa terimakasih bapak tua dan senyumnya yang tak habis-habis saat ku ulurkan uang Rp10.000,- untuknya. “ Kembaliannya untuk Bapak saja” aku pun merasa puas saat melihat bapak itu memberikan senyumnya kepadaku.

Apalah arti uang terakhir yang aku punya itu dibanding perjuangan bapak tua itu. Tak disangka setelah hal itu Allah memberikan rezeki kepadaku melalui perantara lain. Kakakku memberikan aku uang Rp 100.000,- “uang apa ini kak”.” Ini kakak dapat sedikit rezeki yang sebagian kakak buat kamu”. Dalam batin rasa terimakasihku kepada-Nya tak ada hentinya “Terimakasih ya Allah, terimakasih ya Allah, Alhamdulillah kau telah menyiapakan kuasamu untukku, memang kau Maha Menyukupi segala kebutuhan umat-Mu yang mau mengetuk pintu-Mu”.

Tepat pukul 08.00 WIB, aku berangkat ke kampus untuk persiapan ke Solo bersama teman-temanku. Ya, akhirnya aku mendapat tumpangan, untung aku mendapat tumpangan dari temanku yang bernama Neneng. Perjalanan ke Solo, aku tempuh selama satu setegah jam karena angin yang berhembus begitu kencangan. Saat berangkat ada salah satu truk yang sampai terbalik karena terterpa angin. Sehingga aku dan Neneng naik kendaraan tidak terlalu kencang yang penting selamat sampai tujuan dan pulang sampai rumah masih dalam keadaan utuh.

Sampailah aku di Toko Buku Gramedia Solo Square. Gramedia itu, bak lautan buku dengan sinaran mutiara yang menyelaukan mata ini. “ Hikmah bukunya bagu-bagus ya”. “ Iya, Feb bukunya bagus-bagus, tapi Feb jagan lupa foto dulu ya”. Akhirnya kami mengambil beberapa foto di gramedia dan ku ambil buku yang terluliskan Best Seller Negeri 5 Menara. Aku pun pulang membawa dua oleh-oleh buku Negeri 5 Menara dan buku Vocabulary. Sesampainya di rumah langsung ku baca buku itu sampai berjam-jam dan waktu pun tak terasa sudah pukul 23.30 WIB. Aku merasa, novel ini benar-benar menarik yang membuatku ingin menyelami setiap ceritanya yang begitu menginspirasi jiwa.

Dalam novel itu, terdapat kaliamt Man Jadda Wajada “ Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil” kalimat ini bak kalimat magic yang menyihir tokoh di dalam novel dan aku pun ikut tersihir oleh kalimat magic ini. Dan tak lupa, masih ada lagi kalimat magic yaitu pesan Allah yang ditorehkan melalu sang penulis yaitu “Man Shabara Zhafira.”

Siapa yang bersabar akan beruntung. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tapi apa yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup”. Sejak saat itu aku mengerti Allah telah mengirimkan Pesa-Nya melalu novel-novel dan buku islami yang menyejukan hati.

Rasa cintaku pada-Nya semakin tak terbendung, setiap membaca novel-novel dan buku Islami karya para pecinta-Nya. Sejak saat itu, aku bersikap lebih sabar dalam menghadapi semua masalah dalam hidupku dan selalu bersyukur. Pelajaran demi pelajaran aku dapat dari pesan-pesan- Mu yang kau torehkan melalui tinta-tinta sang pencinta-Mu dan pengalaman hidupku yang selalu diiringi pesan-Mu. Sejak saat itu, aku mulai merajut mimpi-mimpiku untuk menyongsong masa depananku dan belajar dari semua pengalaman yang pernah aku alami. “Mimpikanlah impian yang tinggi dan mulia. Sebab apa yang Anda impikan, seperti itu pulalah nantinya yang akan Anda terima. “Visi Anda adalah gambaran tentang keadaan Anda pada suatu hari kelak. Harapan ideal Anda adalah gambaran tentang seperti apa diri Anda nantinya. (James Allen, Asa a Man Thinketh)”. Sejak saat itu, tanpa rasa takut dan minder ku torehkan semua impian-impianku dalam mega-Mu yang satu persatu mulai terwujud atas izin-Mu. Sungguh Allah itu Maha Mendengar. Dan Terimakasih untuk Dosen ku yang mendorong ku dengan sepenuh tenaganya memotivasi dan menasehati ku saat dikelas. Sehingga aku bisa berada dibalkon rumah ini sambil menatap bunga tulip yang bermekaran di negeri kincir angin ini Belanda. Sebuah negara yang hanya dalam impian ku saat aku masih di bangku kuliah ku, namun sekarang hal itu bukan hanya sebatas mimpi.

cerpen ini terinpirasi dari kelas Bpk.Hammam Sanadi saat Bpk.Hammam Masih mengajar Kami di STAIN Salatiga🙂 …..

Author:

slow but sure

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s