Posted in Kumpulan Cerita Novel dan ISlam

Hadiah dari Toko Antik


581479_421369494541974_1782084508_n11-ahlan acurose muslimah1

Matahari menembus sela-sela fentilasi kamarku sehingga mengelitik mataku dan  terpaksa kudorong badan ini untuk condong kedepan. Semalaman belajar dan menyelasaikan tugas sungguh pekerjaan yang sangat menyenangkan sekaligus melelahkan. Andaikan tugas paper ini seperti wajah actors hollywood pasti aku akan selalu mecintai tugas-tugas ini dengan sepuh hati dan jiwaku tanpa melepas pandanganku sedikit pun. Memang bagi beberapa pelajar pasti akan mengeluh kalo harus belajar dan menyelesaikan tugas Pasti merteka akan mengeluh “Wah kenapa sich didunia ini ada istilah belajar dan tugas yang harus dikumpulin… nah apa lagi tuh ujian, kenapa ujian gak cuma ujian kehidupan tapi kenapa juga ada ujian sekolah juga… ya Tuhan kenapa?”.

Namun aku selalu berusaha berfikir positive aja tentang tugas yang harus kulakukan. belajar dan mengejarkan tugas dan apapun lah yang berhubungan dengan tugas dan tangung jawab seorang pelajar. karena hal itulah seorang pelajar untuk jadi orang yang lebih baik dan punya knowlandge yang mumpuni, yah aku selalu berfikir gak ada hidup yang sempurna tanpa perjuangan.

Rasanya pagi ini berbeda dengan pagi-pagi sebelunya, ya pasti berbeda lah kan sudah beda suasana. Yah aku selalu mengeset pikiran ku sesuai keinginanku. Jadi mulai dari bagun tidur aku sudah merecanakan tentang apa yang mau kulakukan dan apa yang tidak mau kulakukan. Bahkan aku membuat daftar tentang hal-hal yang negatif yang harus ku hindari, dan hal itu bahkan harus aku buang dari daftar checklist kehidupanku walaupun sulit. tapi aku selalu membuat cangkang untuk mutiaraku yang dimana cangkang itu selalu kupoles dengan kuas manis kehidupanku agar mutiara didalamnya tak ternoda oleh bercak hitam pasir dan lumpur kehidupan meskipun kadang aku merasa naif untuk menutupi diriku dengan cangkang dan kuas, ya bisa disebut juga dengan kuas lem. tertutup rapat dan tak menunjukan diriku yang sebenarnya.

Tak hanya itu aku juga membuat daftar hal-hal positif yang harus aku jalankan dalam setiap hariku. Yah, aku pun bersyukur kepada Tuhan tentang apa yang telah diberikanya padaku padasaat ini. keluarga yang sempurna ayah, ibu, dan kakak yang selalu memberikan senyum tulusnya untukku. walaupun aku menunjukan mutiaraku yang segungguhnya tanpa menggunakan cakang dan kuas untuk menutupi diriku yang sesungguhnya. “Ya Tuhan terimaksih engkau telah melahirkankku di keluarga ini” ucapku dengan serigaih senyum yang lebar.

“Shandy, cepat bagun nanti kamu telat masuk sekolah loh, apalagi kamu belum sarapan juga” seru Ibu yang mengetuk kamarku sambil mengunakan celemek masak kesayangannya itu.

Ibu… Ibu kenapa sich gak bisa terlepas dari celemek kebangaanya itu. Dipagi yang indah ini mataku sebenarnya agak geli melihat celemek usang Ibu, tapi aku suka sich saat Ibu memakai celemek itu. Ibu terlihat manis dan cantik dibalut dengan celemek yang berwarna pink-purple itu. memaang sich ada kenangan manis dibalik celemek kesanyangan ibu itu. Saat aku turun darikamar dan bertemu dengan semua keluarga ku ayah,kakak, dan Ibu. Aku sesekali menggoda ibu saat didapur, Aku memengang tangan ibu dan mengajaknya menari mengangkat tanganya dan memutar badan ibu yang dibilang sich sudah tidak langsing lagi dan tak heran jika tubuh ibu terhuyun-huyun karena ulahku itu. Ayah dan kak Dimas yang melihat ulahku itu melontarkan senyum lebar dan sesekali ayah mengernyitkan alis panjangnya dan bergumam.

“Shandy, kasihan ibu mu…. lihat mommy manisku sudah tak seluwes waktu muda dulu, tapi ayah jadi gemas melihat mommy ku sayang dan my sweety ku ini”.

Aku pun memutar-mutar mataku dan di akhir putaran mataku kuberikan kedipan mata yang manis seperti bintang, ini adalah salah satu isyarat agar ayah mau meredakan gumamanya terhadap tingkahku yang mengonyolkan ini. Kak Dimas pun tak sanggup untuk menahan ledakan tawa yang ada didalam mulutnya, baginya menahan tawa ini bagaikan mengunyah permen karet bom dan saat kunyahan itu sudah siap untuk ditiup dan busssh meledak dech tawa besar megema di dapaur mugil rumah kami. Namun aku suka masa-masa seperti ini karena kehagatan keluarga yang harmonis mengalir dalam atmosfer seluruh ruangan rumah kami.

Celemek pink-purple yang menebarkan kebahagian manis ini memang memiliki ceritanya tersendiri dan hal itu dimulai pada saat ulang tahun pernikahan ayah dan ibu yang ke-25 tahun. pada pagi itu aku sudah dipusingkan dengan checklist kejutan yang akan aku buat untuk ibu. Aku pun terhuyun-huyun senang bagun dari meja belajarku dengan membawa daftar yang aku persiapkan untuk ibu. Nah langkah pertama yang ku ambil adalah menemui ayah atau daddy ku sayang sambil membawa daftar itu biasa untuk meminta dana kejutan kecil untuk ibu. Aku pun tak lupa mengajak kakak ku untuk turut serta menyiapkan kejutan kecil untuk ibu.

Recanaku ini bagaikan cerita dalam kisah film dan novel-novel romantic yang sudah diset sedemikian hingga agar nampak sempurna untuk dijalankan. Ayah sebagai Robert Pattinson dan ibu sebagai Bella Swan dalam kisah Twilight yang dimana mereka akan berdansa bersama dibawah rembulan dan dikelilingi dengan bunga mawar putih dan lilin yang bercahaya lembut untuk menyinari wajah mereka.  Aku sudah tak sabar untuk merekam adegan ini bila nanti benar-benar terjadi. Indah pasti seluruh mahluk di dunia akan iri saat melihat seorang anak dapat melakukan hal yang menakjubkan ini demi menunjukan kasih sayangnya untuk ayah dan ibu tercintanya. Aku pun serasa terbang ke langin seperti dalam film Sky High yang harus naik bus untuk sampai kesekolahan yang berada dilangit dan berusaha agar bisa menjadi super hero, yang pada akhirnya aku akan mengunakan tenagaku untuk menciptakan bunga-bunga indah yang bermekaran demi mereka.

Aku berserigaih lebar saat berjalan menghapiri ayah yang dari tadi perhatiannya hanya terpusat pada lembaran-lembaran kertas yang setiap pagi dilempar tukang koran dari sepedanya menuju beranda rumah kami. Raut muka ayah sudah seperti pengamat politikus handal dan kritikus handal bahkan aku tak segan untuk bilang ayah ku sudah seperti pembawa acara berita yang tau semua hal tentang Hit News hari ini. bahakan tak segan-segan ayah mengajaku mengobrol tentang hal-hal terbaru, seumpamanya pasar bebas indonesia yang naik di pasar Asia atau bahkan membahas tentang kepemimpinan gubernur Jakarta yang baru seperti pak Jokowi yang mengesankan seperti super hero baru untuk kota Jakarta yang selalu dilamda banjir setiap tahunya. Yah aku hanya berharap kepada pak Jokowi agar maslah di kota Metropolitan ini segera terselesaikan mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar seperti kebudayaan korupsi yang meraja lela di Indonesia kususnya di kota Jakarta tercintaku ini. Yah I Hope it will finish.

Ahirnya kudorong tanganku untuk megeser koran ayah agar wajah pajang nan tanpa ayah terlihat olehku. aku pun segara mengeluarkan jurus rengekan princess ku.

“Ayolah, ayah ku daddy ku tercinta. Ayah inggatkan ini hari apa”

Ayah hanya mengagguk sambil membenarkan kacamatanya yang turun bagaikan turun dari prosotan di TK ku waktu aku masih kecil dulu. Ayah hanya memutar bola matanya menuju wajahku yang chubby bagaikan bola bekel yang lucu dan meloncat-loncat siap untuk ditangkap ayah. Sesekali ayah megeser badannya untuk berpindah posisi duduk mencari posisi ternyaman.

Saat aku melihat ayah aku hanya memutar mataku untuk melihat seluaruh ruangan ini agar mendapat ispirasi kata-kata yang tepat untuk bilang ke ayah agar ayah mau merogoh saku hitamnya yang ada dibelakang badannya, kemudia mengelurkan beberapa lembar kertas berwrna merah dan biru. Yah itu sich harapnku tapi aku tak tahu lembaran apa yang akan dikeluarkan ayah untukku. Aku melihat beberapa boneka yang terpajang di meja ikut melihatku dan medoakanku. mereka menujukan mata mugil nan indahnya untukku dan mungkin boneka-boneka itu berharap agar ayah segera merogoh katong celananya dan menghucurkan lembaran-lembaran uang kertasnya.  Merka seakan tahu harapanku saat aku melirik boneka-boneka lucu yang terpajang di meja kayu panjang itu.

Ahirnya aku mencoba menghirup udara diruangan ini untuk mengisi rogga dadaku agar aku berani mebusung dan merayu ayah. serasa semua udara ini telah ku hisap tanpa sisa aku pun merasakan oksigen yang masuk dalam paru-paru ku menyalurkan energi keberanian untukku. Mungkin aku juga memerlukan pundi-pundi udara seperti yang dimiliki burung agar aku dapat menyipan oksigen segar ini agar otak tak mengalami miss saat berbicara kepada ayah. Aku pun mengusap usap dadaku dan mendekati ayah. aku tak tahan mata lembut ayah nan tajam berusaha mencoba mencari maksud kedatanganku menghapiri ayah. mata ayah sepeti elang yang sudah memulai searching kedalam hatiku dan saat elang itu telah menemukan mangsanya hap mangsanya pun tertangkakap. Kalau ayah pasti langsung tahu maksudaku apa.

Aku belum mengucapkan banyak kata hanya ” Ayah ingatkan sekarang hari apa”. Ayah hanya mengangguk dan mebenarkan lagi posisi duduknya. ayah sepertinya sudah menangkap signal-signal dariku tanpa aku harus mengucapkan banyak kata seperti dalam rencanaku tadi. Tapi ayah sudah tau dengan menatap wajahku dan gerak gerik bahasa tubuhku yang begitu kaku namun jujur. aku hanya mencoba mengakat tanganku untuk minta uang namun ayah sudah bisa menangkapnya, dan hap ayah menarik dopet coklat loius Volutionnya dan menarik satu lembar uang berwarna hijau. aku pun tercenagang Hah… apa? hanya selembar berwarna hijau. aku pun tercengan dan mengelurkan jurus seribu rayuannku untuk ayah. Mana mungkin uang selembar berwarna hijau atau dibilang dalam nominalnya itu hanya Rp 20000, saja. Aku pun mencoba untuk memutar otak ku dengan uang Rp 20000, bisa dapat apa ya?

            Rasanya aku perlu mengocok kepalaku agar aku dapat mengfungsikan kembali saraf-saraf otakku agar aku dapat berfikir dengan jernih. Uang yang hanya Rp 20000 ini bisa dapat apanya? Dizaman modern seperti ini apalagi harga BBM baru saja naik. Rasanya aku seperti diatas pelagi yang indah dan kemudian kaki-kaki mugilku ini menginjak sebuah black holl yang mengatarkanku kedalam jurang kegalauan untuk memilih hadiah yang pas untuk ibu.

            Tanggal 23 Februari tinggal 2 hari lagi dan aku pun masih memutar otakku untuk mendapatkan hadiah ulang tahun pernikahan ibu yang ke 25 tahun ini. Aku dan kak dimas berusaha berunding untuk menemukan solusi. Memang sich ayah mencoba untuk mengetes aku dan kak Dimas. Ayah mencoba mengetes seberapa besar usaha kami untuk mendapatkan hadiah pernikahan mereka yang ke-25 tahun ini dengan uang yang ngepres alias pas-pasan, ayah juga tak mengijikan kami untuk mengunakan uang tabungan kami. Karena ayah tahu bahwa uang tabungan yang kami kumpulkan ini akan kami gunakan untuk keperluan kami medatang untuk menuntut ilmu. Karena sejak awal ayah dan ibu sudah mendidik kami untuk mengutamakan pendidikan dan sejak kami kecil ayah sudah megajarkan kami untuk menabung. Ayah hanya memperbolehkan kami mengunakan uang ini untuk membeli keperluan sekolah tambahan yang ingin kami beli seperti buku-buku penunjang materi sekolah atau untuk membatu orang lain yang membutuhkan. Karena untuk keperluan lain yang kami inginkan ayah sudah mencukupi semuanya itu.

            Aku bersyukur bisa tumbuh dikeluarga yang kecukupan ini, apalagi dengan sosok figur kedua orang tua kami yang begitu menyayangi kami dan selalu mendidik kami agar selalu berbagi dengan orang lain. Aku dan kak dimas sebetulnya tahu kalo ayah mencoba mengetes kami. Ayah mencoba mengetes seberapa besar usaha kami untuk mambahagiakan orang tua dengan cinta kami yang difasilitasi dengan kesederhanaan materi ini. Hanya bermodalkan Rp 20000 ini, benda apa yang tidak dapat dilupakan oleh mereka khususnya ibu.

“kak Dimas mata ku sudah gak kuat lagi nich! Buat mikir rasanya sudah pengen tidur coba lihat jam dinding diatas perapian itu udah menunjukan pukul 01.00 WIB” meskipun perapian ruang tegah kami tak pernah terpakai karena di Jakarta gak pernah turun salju tapi menurutku perapian diruang tegah ini terlihat lumanyan manis dengan jam diding mengelantung diatas dindingnya. Maklum ayah seorang arsitek yang suka medesain sebuah rumah agar terlihat cantik dan nyaman. Kakak hanya megerakkan kepalanya dengan satu tolehan saja dan lirikan matanya bak elang yang menemukan mangsanya hap matanya tertuju pada angka satu yang seakan-akan menari-nari dengan gemulai seperti mencoba menghipnotis mata ku yang sudah mulai meredup ini. kusegol pundak kak Dimas yang gagah itu dengan tenaga dalam yang tersisa dari tumbuh ini. “ kak gimana aku tidur dulu ya” suara low roar ku ini seperti pertanda pertahananku sudah tak kuat lagi. Aku pun mengerakan badan ku meninggalkan karpet bulu lembut didepan perapian ini. Dan hap wajah ku pun menangkap sebuah bantal empuk yang rasanya seperti bom alamrem penunjuk ekspresi kekesalan kak Dimas yang coba aku tinggal sendiri. “ Ah gimana sich dek, Kak Dimas kan juga udah ngantuk kamu malah main tinggal aja tanpa bosa-basi ngajak kakak tidur” Perut ku pun terasa tergelitik medengar ucapkan kak Dimas yang ternyata pertahanan matanya juga sudah kejebolan dengan rasa kantuk yang kuat. “ yah sapa suruh diam aja, adek kan  udah bilangkan sama kak Dimas kalo adek mau tidur dulu kak! Kakak aja yang gak tanggap. Ya udah kak kita mikir solusinya besok lagi ya”

            Kak Dimas yang pasrah karena sudah dilanda rasa kantuk pun menggelengkan kepalanya dengan gemulai seperti mebentuk tangga nada lagu. Aku pun terkekeh melihat ekspresi wajah kak Dimas yang tergambar seperti  botol yogurth yang terlihat manis tapi terasa asam. Aku pun melakah dengan gontai menuju kamar ku yang berada di sudut lantai dua. Rasanya daun pintu kamarku yang terbuka sedikit merayuku dengan lambaian warna pink purplenya untuk merayuku agar segera masuk kedalamnya. Bruk aku pun merebahkan tubuh ku yang terasa berat ini kedalam kasur empuk yang diselimuti oleh bed cover merah bergambar pengantin cina yang terlihat imut dan manis.

            Akhirnya pagi pun tiba pertanda hari kami untuk mencari hadiah untuk ulang tahun pernikahan ayah dan ibu tercintaku sudah berkurang satu hari. Aku pun segera menarik selimut yang mebungkus kak Dimas bak  kepongpong ulat yang siap menetas. Mending kalo kepongpong ulat menetasnya indah nah kalo ini menetasnya bukan indah lagi tapi bau gas beracun. “ Ah kak Dimas gimana sich dibangunin malah mengebom aku dengan gas beracun” aku pun tak segan-segan menedang bokong kan Dimas yang terlihat mengunung itu. Haitcha dug gubrak yach berhasil akhirnya kak Dimas terguling dengan indah. Yah meskipun aku terlihat sedikit seperti adik yang jahat sich, tapi ini jalan terakhir yang bisa aku lakukan untuk memelapskan kak dimas dari kepongpong kemalasanya itu apa lagi kak Dimas itu raja tidur.

             Aku dan kak Dimas akhirnya menemui bik Surti yang sedang menyiram bunga krisan kesanyanku di taman belakang. “ bik jangan lupa mawar dan angrekku disiram ya, eh bik tau gak tempat belanja yang barang-barangnya murah dan bagus-bagus” Bik Surti pun sedikit mengerakan matanya untuk ikut berfikir. “ oh bibik tau non, coba non ke pasar tanah abang aja. Disanakan banyak barang-barang murah non”. Oh iya kenapa kau gak terfikir untuk serching ke pasar tanah abang aja ya. “ ok bik makasih” aku pun memeluk bik Surti dan melempar senyum imutku tanda ucapan makasih. Maklum lah bik Surti sudah aku anggap seprti nenekku sendiri karena bik Surti sudah merawat kak Dimas dan aku sejak kecil.

            “Kak Dimas buruan keluar dari kamar. Ayo, kita pergi ke pasar tanah abang buat cari hadiah buat Ibu dan Ayah”. Dengan suara nada super tinggi ku panggil kak Dimas dengan lantang. Kak Dimas pun langsung menjawab seruanku dengan nada datar “ Bentar adek ku sayang kakak baru ambil kunci mobil dikamar kakak”. Dengan perasaan tak sabar yang meluap-luap aku medenagar suara lirih musik klasik dari depan rumah ku. Ternyata suara itu berasal dari kelurga Mr.Smith. Tetanggaku depan rumah mereka memang selalu bahagia meskipun mereka tinggal berdua karena semua anaknya tinggal di Negeri kincir angin Belanda.

Aku pernah bertanya kepada Mr.Smith dan Mrs.Smith, apakah anda bahagia hanya tinggal berdua saja tanpa anak-anak anda? Dia menjawab “Happiness is easy my dear, if you bealive each other it can makes you happy, beacuse happiness comes when we could share it with warm heart” aku pun bertanya “Even though we live in different place with long distance?”. Kemudian Mrs.Smith menyetuh dadaku tepatnya di jatung ku. Kemudian Mrs.Smith berkata “the key of happiness in here… is not about money, price, or expensive things… without we meet them we still have hope and wish for them… that is enough for me… because they are also have there own life… could see them happy is enough for me as mother and father… so happiness is easy… if we could understand each other goodly and could accept everything about them wisely… that mean of happiness for me”

Aku pun memandang Mr.Smith and Mrs.Smith yang masih berdansa di ruang kelurganya. Jendela kotak dengan korden yang terbuka itu serasa membuka kembali kenagan ku dengan kelurga Smith ini. Kenangan yang membuatku teringat perkataan mereka. Bahwa kunci kebahagiaan itu bukan soal besar harga hadiah, uang, atau apa pun melainka jika kita mau menerima dan mau memberikan hati kita dengan kehangatan kasih sayang itu sudah cukup. Tidak harus selalu bertemu atau apalah, melainka dengan harapan dan doa kita untuk orang yang kita cintai itu saja sudah cukup untuk membuat kebahagiaan dalam hidup kita. Karena dengan hal tersebut orang yang kita sayangi akan lebih peka merasakan kasih sayang kita terhadap meraka, karena kebahagiaan adalah hal yang mudah untuk diciptakan asalkan kita tau kuncinya. Kuncinya adalah hati dan perasaan yang hangat terhadap orang yang ada disekeliling kita walaupun terpisahkan jarak dan waktu.

Aku pun semakin bersemangat untuk mencari hadiah untuk orang tuaku. Akupun kaget saat kak dimas menepuk pundaku dengan kencang. “Plak… aduh adek pagi-pagi gini udah glamun entar kesambet baru tau rasa kamu”. Aku hanya tersenyum dan langsung memeluk tangan kakak yang kuat dan hangat sambil berkata. “ kak dimas tau gak kalo aku benar-benar sayang kak Dimas dan Ayah Ibu”. Kak Dimas pun mengusap-usap kepalaku seperti mengusap kucing anggora kami yang manis. “idih kak Dimas, emangnya aku kitty gembul. Diusap-usap kayak kucing”. Sebenarnya hati ku bahagia sich dengan ulah kak Dimas. Karena aku tahu hal yang dilakukan kak Dimas ini bentuk kasih sayang kak Dimas buat aku. “Let’s Go …Kak Dimas saatnya hunting hadiah buat Ayah dan Ibu” . Kak Dimas pun menjawab “ iya, nona kecilku yang manja. Sekarang saatnya tancap gas buat berburu hal terhebat buat Ayah dan ibu”.

Lagi-lagi kepala kami serasa terkena komet helly saat kami ingat kalo kami hanya punya uang dua puluh ribu rupiah. Aku pun berkata pada kak Dimas “ kak masih ingat Film 3 Idiot gak? All Is Well kak” . kakak pun mengangguk “okay adek kecil ku saat nya membuat keajaiban dengan quote ALL IS WELL HAPPINESS IS EASY TO REACH”. Aku pun mengacungka dua jempolku untuk kakak.

Akhirnya mobil kami sapai di pasar tanah abang. Banyak sekali orang-orang berlalu lalang diparkiran ini. Serasa parking area ini bukan parking area lagi tapi udah jadi market yang sebenarnya. Sebab banyak sekali orang yang mebawa tas besar dengan belanjaan yang penuh. Tak hanya itu mereka juga ngobrol tanpa henti ada yang gobrol dengan orang didekatnya dan ada juga ada yang gobrol dengan Handphone yang mereka gengam.

Aku serasa terlempar kenegeri dongeng Film Harry Potter part one, saat Harry Potter mencoba untuk mencari sapu terbangnya di pasar traditional yang begitu penuh sesak dengan orang plus warna tembok-tembok yang sudah tua dan tidak segar lagi. Yach seperti inilah gambaran pasar tanah abang. Sebuah pasar traditional tanpa balutan cet yang masih virgin, alias semua cet di pasar ini sudah berwarna tua dan tak cerah lagi. Namun ada atmosfer mistis yang membuat orang-orang suka belanja ditempat ini. Faktor mistisnya ya karena barang-barang disini murah lah. Aku pun terpekik geli saat berfikir tempat ini seperti dalam negri sihir hehehehehe.

            “ayow kak kita kesana” akhirnya kaki kami terhenti disebuah toko antik tua dengan barang-barang unik dengan harga-harga murah. Setelah aku dan kak Dimas memilih-milih mata kami bertemu dalam satu titik warna yang mempesona, yaitu warna kesukaan Ibu yaitu warna pink-purple yang manis. Benda itu terpajang dalam boneka wanita yang terlihat kurus namun terlihat sangat luwes memakai benda ini. Aku pun menyegol perut kak Dimas dengan siku tanganku. “kak yang ini ya” kak Dimas pun menganguk dengan lemah “He’em” akhirnya kami megoyangkan bell yang di atas meja untuk memanggil si penjual. Aku dan kak Dimas sangat kaget, karena penjual toko ini sudah tua sekalia. Kemudian kami bertanya kepada nenek tua ini. “Nenek harga celemek ini berapa?”. Nenek pun menjawab harganya mahal nak, karena celemek ini bisa meberikan kebahagiaan didalam kehidupan orang yang memakainya”. “kok bisa nek” nenek tua yang rambutnya sudah putih dan kusut ini pun semakin membuatku penasaran. “kenapa bisa seperti itu nek?” kemudian nenek tua ini pun menceritakan kisah dari celemek pink-purple ini.

“sebenarnya celemek ini pemberian dari suami nenek yang sudah meninggal. Memang celemek ini terlihat masih bagus dan baru, karena nenek tidak pernah memakainya. Sebab setelah suami nenek memberikan celemek ini, suami nenek mendapatkan tugas untuk berangkat kebandung sebagai tenaga kesehataan saat masa perang Bandung lautan api. Nenek hanya menyimpan celemek ini, karena nenek berharap dapat memakai celemek ini saat suami nenek dirumah. Sehingga suami nenek dapat melihat nenek dengan tatapan yang manis saat memasak masakan enak untuknya. Namun harapan nenek hancur saat seminggu setelah suami nenek berangkat tugas nenek mendapatkan surat kalo suami nenek meninggal. Nenek sangat sedih dan memutuskan tidak akan memakai celemek ini. Karena celemek ini adalah kenagan terahir dan terindah dari suami nenek. Sehingga nenek ingin selalu menyimpanya dengan rapi dan indah”. Aku pun merengek hebat kepada nenek tua ini “ nenek aku ingin beli celemek ini nek, untuk hadiah pernikahan orang tuaku yang ke-25 tahun nek” aku semakin meregek karena tau cerita dibalik celemek ini memang benar-benar mengaharukan.

 Benar kata Mr.Smith kebahagiaan itu bukan soal nominal tapi satu kuncinya yaitu apa yang ada dihati kita. Nenek pun tetap tak mau menjual celemeknya untukku. Aku tetap tak mau menyerah, aku pun berbicang dengan nenek ini. Saat itu nenek merry memegang sisir putih tuanya. Akupun menawarkan bantuan untuk nenek merry. “ nek mau aku bantu menyisir rambut nenek?” kak Dimas hanya duduk manis sambil melihat-lihat etalase nenek merry yang dipenuhi oleh benda antik. “iya nak” aku pun menyisir rambut nenek merry dengan senang karena aku merasa memiliki nenek baru. Karena nenek sudah tidak ada didunia ini. Akhirnya jam antik nenek merry berbunyuk tepat pukul lima sore. Aku pun tetap memaksa nenek merry untuk menjual celemeknya pada ku. “ Nek, aku memiliki seorang Ibu dan Ayah yang sangat berharga bagiku. Ayah ku berkata tidak perlu membelikan barang mewah atau mahal untuk menunjukan kasih sayang mu kepada Ayah dan Ibu, Cukup dengan senyum dan hati lembut mu saja sudah cukup untuk ayah. Walau pun nenek tidak memberikan celemek ini untuk aku. Aku akan tetap datang ketempat ini setiap ahari untuk mengirimkan masakan Ibuku untuk nenek Merry. Karena nenek merry adalah sesosok nenek bagi ku. Sesosok waniata yang ingin selalu mejaga cinta sejatinya dengan menyimpan celemek dari suami nenek dengan baik”. Aku pun berdiri dari korsi yang aku duduki sambil menepuk kedua kaki kak Dimas. “ Sampai jumapa besok ya nenek Merry”. Aku pun melangkah keluar menuju pintu coklat toko nenek Merry. “ tunggu nak” nenek Merry pun memberikan bungkusan yang terselimuti plastik hitam. “ Ini nak hadiah untuk Ibu mu… jangan kamu buka disini dan kamu tidak boleh membukanya hanya ibumu yang boleh membukanya. Ini gratis untuk ibu kamu, karena kamu benar-benar ingin membuat orang tua mu bahagia” Aku pun tersenyum lebar dan memeluk nenek merry dengan erat. “terimakasih nenek Merry aku akan sering-sering datang kemari ya nek”.

            Akhirnya uang kami tetap untuh dua puluh ribu. Aku dan kakak memutuskan untuk membeli sebuket bunga mawar dan krisan untuk Ibu. Ibu pun sudah menyiapan masakan enaknya dan kami sekelurga berkumpul diruang makan. Memang Ibu dan Ayah adalah orang yang sederhana yang terpenting adalah kehangat cinta itu nomer satu bagi Ibu.

            Akupun tak tahu apa isi dari plastik hitam pemberian nenek Merry. Aku hanya menundukan mukaku saat memberikan hadiah ini untuk Ibu dan kak dimas memberikan bunganya untuk Ibu. Akhirnya Ibu pun membuka plastik itu dengan senyum manisnya. Saat ibu membuka plastik itu Ibu melihat kain berwarna Pink-purple dan jam tangan berwarna silver untuk. Jam tangan yang cocok digunakan untuk seorang laki-laki dibawah jam tersebut terdapat surat dari nenek Merry. Ibu dan Ayah pun membaca surat itu. Aku dan kak Dimas pun tidak tahu apa isi dari surat itu, namun tiba-tiba Ibu meneteskan air matanya. Ibu sangat terharumungkin isi surat itu berisikan kisah hidup nek Merry. Ayah pun mencium kening ibu dengan mesra Ibu pun mengangkat mukanya dan tersenyum kepada kami sambil membuka lebar kedua buah tangan Ibu. Aku pun dan Kak Dimas pun datang menghampiri ibu sambil mengucapkan.

“ Ayah Ibu selamat hari ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu ya, Semoga Ayah dan Ibu selalu bahagia” Ayah pun ikut memeluk kami sambil menunjukan semyum bahagianya untuk kami. Aku pun tak tahu apa yang ditulis nenek Merry untuk ibu, namun aku tahu pasti yang ditulis nenek Merry adalah sesuatu hal yang indah. Jam tangan manis milik suami nenek Merry sekarng pun masih selalalu menemani tangan hebat Ayah.

Ayah berkata “ sekarang apa kalian mengerti apa itu kebahagiaan anak-anaku yang manis. Kebahagiaan itu bukan soal harga barang atau kemewahan yang hal yang didapat, melainkan sebuah kenagan yang indah dan kehagatan hatilah kunci dari semua itu. Saat kita bisa membuat hati orang lain nyaman dan membuat mereka tersenyum. Itulah arti kebahagiaan. Kebahagiaan itu mudah, namun terkadang bisa menjadi hal yang sulit. Karena terkadang seseorang membuat setandar tersendiri untuk mengartikan kebahagiaan. Jadi jaganlah kalian membuat setandar kebahagiaan namun buatlah hatimu itu hangat dengan kasih sayang untuk orang lain”.

Sejak saat itu celemek pink-pulpule dan Jam tangan berwarna silver ini selalu menghiasi kebahagiaan rumah kami. Sesekali aku pergi ketempat nenek Merry. “Ibu makanan untuk nenek Merry sudah siap? Aku dan Kak Dimas Pergi dulu ya ke tanah abang” Ibu pun melempari kami dengan senyum manisnya yang dipenuhi dengan kasih sayang. Ayah pun melambaikan tangan besarnya dengan ringan sambil menjawab salam kami “Wa’alaikum salam hati-hati dijalan nak… dan salam untuk nenek Merry ya”. Mobil kami pun keluar menjauhi garasi untuk melaju ketanah abang.

Author:

slow but sure

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s